<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453</id><updated>2012-01-08T16:16:58.203-08:00</updated><title type='text'>Gede on Water</title><subtitle type='html'>No life without water; kekuatan air (minum): spiritual kultural manusia dlm teknik lingkungan (environmental engineering) dan ekologi (ecology). “Dan dari air Kami jadikan segala yang hidup”, “And We made from water every living thing”, Qur’an, Al Anbiyya:30. The true power of water in PDAM Bangkrut? Awas Perang Air, sakral dalam tirtha nirmala, tirtha kamandalu, amrta njiwani (Sansekerta), maaul hayat (Arab), nectar-ambrosia (Yunani), the elixir of life, the liquid of life (Inggris).</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-8632142521874306242</id><published>2011-12-31T23:59:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T14:04:55.981-08:00</updated><title type='text'>IPA atau IPAM?</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;IPA atau IPAM&lt;/span&gt;?&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan akhir tahun 2011 untuk teman-teman di PDAM.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PDAM adalah singkatan dari Perusahaan Daerah Air Minum. Lantas, mengapa instalasi pengolahan airnya disingkat IPA, bukan IPAM? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut leksikologi, istilah IPA kurang tepat, terlebih lagi dikaitkan dengan singkatan PDAM, yaitu ada huruf A dan M. Pada peraturan menteri pun singkatan ini disebut AM (air minum). Merujuk pada aturan penulisan, tulisan IPAM lebih tepat daripada IPA, apalagi kalau dikaitkan dengan istilah tandingannya, yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, agar tetap hemat, istilah IPA yang ditulis di dinding-dinding unit pengolah dan papan nama di PDAM, biarkan saja sampai nanti saatnya ada pengecatan kembali. Ketika dicat ulang inilah selayaknya kata IPA diganti dengan kata IPAM dan semua laporan, dokumen, dll sebaiknya menggunakan kata IPAM. Terlebih lagi sejak tahun 2010 pemerintah makin menggiatkan pembuatan rencana induk (master plan) yang berkaitan dengan air minum dan disingkat RISPAM (Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum), bukan RISPA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau semua sudah satu “suara”, seragam dalam hal istilah atau singkatan seperti ini: PAM (Penyediaan Air Minum, mata kuliah di Teknik Lingkungan), PBPAM (Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Minum, mata kuliah di TL), BPAM, PDAM, BPPSPAM, IPAM, RISPAM, dst maka mudah-mudahan nanti ada keselarasan dan perbaikan di bidang air minum, dimulai dari hal-hal yang dianggap sepele seperti di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;NB. Sssssstttt…, ada satu yang bukan, tapi “tegap, kekar, dan keren abis”, yaitu PAM dalam PASPAMPRES&lt;/span&gt;. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-8632142521874306242?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/8632142521874306242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=8632142521874306242&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/8632142521874306242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/8632142521874306242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2011/12/ipa-atau-ipam.html' title='IPA atau IPAM?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-581972257420480777</id><published>2011-12-31T13:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T13:59:48.585-08:00</updated><title type='text'>A I R (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A I R&lt;/span&gt; (2)&lt;br /&gt;Oleh Gede H. Cahyana&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari pemanfaatannya, sumber-sumber air baku memiliki hirarki. Dalam skala prioritas, mata air menduduki peringkat pertama, kemudian air tanah dalam, dan air permukaan (sungai, danau, waduk, air payau, air laut). Alasan utamanya, jauh lebih mudah dan lebih murah memanfaatkan mata air dibandingkan dengan memompa air tanah dalam, apalagi mengolah air permukaan. Hanya saja, sangat jarang mata air berkapasitas di atas 1.000 l/d (kecuali di mata air Umbulan, Jatim dan mata air Gembrong di Tabanan, Bali). Kebanyakan debitnya di bawah 200 l/d atau bahkan di bawah 100 l/d.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang sangat besar debitnya memang ada, contohnya adalah mata air di Subang, di kaki Gunung Tangkubanparahu, tetapi lokasinya di bawah permukiman sehingga perlu biaya pemompaan yang sangat mahal. PDAM Subang termasuk beruntung karena memiliki mata air yang besar kapasitasnya dan sebagiannya dibeli oleh pabrik air minum kemasan. Dari satu pelanggan ini saja sudah lumayan income PDAM Subang. Secara umum, hampir semua mata air berkualitas baik, hanya perlu proses disinfeksi sehingga murah biaya operasi-rawatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Air tanah dalam adalah pilihan kedua. Biaya pemompaannya sangat mahal. Kualitasnya relatif bagus sehingga hanya perlu disinfeksi. Di daerah tertentu biasanya perlu diolah dengan unit aerator untuk mengurangi besi dan mangan. Untuk kapasitas yang kecil, kurang dari 100 l/d, menyedot air tanah dalam memang lebih menguntungkan. Tetapi sangat mahal biaya operasi-rawatnya kalau harus menyuplai pelanggan dengan debit di atas 100 l/d, apalagi 200 l/d ke atas. Apa pasal? Satu saja sebabnya, yaitu PDAM dilarang menjual air mahal-mahal oleh kepala daerah dan DPRD sehingga ongkos produksi air jauh di atas harga jualnya (tarif).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang memanfaatkan air tanah dalam tidak hanya PDAM, tetapi masyarakat pun banyak yang menyedotnya, seperti pabrik, kantor, kompleks perumahan, hotel, rumah sakit, asrama, bahkan warga secara pribadi di villa dan bungalow. Akibatnya sudah jelas, terjadi kerusakan lingkungan seperti land subsidence (tanah ambles) dan intrusi air laut, persis seperti yang terjadi di Jakarta dan Semarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pilihan terakhir adalah air permukaan (sungai, danau, waduk, dan yang terakhir adalah air payau, air laut). Sangat jauh beda biaya investasi, biaya operasi-rawatnya. Air permukaan sangat keruh dan berisi banyak polutan. Makin banyak ragam pencemarnya, makin banyak juga jenis teknologi pengolahan yang harus diterapkan sehingga makin mahal juga biayanya. Namun keuntungannya, kapasitas air permukaan sangat besar, apalagi air laut, luar biasa besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Simpulannya, WTP (Water Treatment Plant) atau IPAM (Instalasi Pengolahan Air Minum) untuk air permukaan sangat mahal tetapi kapasitasnya bisa sangat besar. Sekadar contoh, IPAM di Jln. Badaksinga atau Jln. Tamansari, Kota Bandung mengolah air dari Sungai Cisangkuy, kira-kira 1.800 l/d, selain ada juga dari Sungai Cikapundung yang kecil debitnya dan beberapa unit IPAM paket. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-581972257420480777?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/581972257420480777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=581972257420480777&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/581972257420480777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/581972257420480777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2011/12/i-r-2.html' title='A I R (2)'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-8723751930661079388</id><published>2011-12-12T20:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T14:09:34.768-08:00</updated><title type='text'>A I R</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Putih&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah kaprah istilah ini. Sebab, air, yaitu senyawa yang rumus molekulnya H2O, pasti tidak berwarna. Yang putih warnanya adalah air yang dicampur dengan susu. Namanya air susu atau susu. Susu ini mengandung beragam zat kimia, ada protein, lemak, vitamin, mineral, juga karbohidrat. Kalau ditanya, ”mau minum apa?”, jangan dijawab dengan: air putih. Jawab saja: air. Tentu yang dimaksud adalah air jernih, air bening, air bersih yang layak diminum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Jernih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tentu air jernih layak diminum. Air yang tampak jernih boleh jadi dihuni oleh banyak jenis mikroba yang berbahaya bagi perut. Ada milyaran bakteri berbagai jenis mengisi air yang tampak jernih. Ada yang tidak patogen, ada juga yang patogen penyebab sakit tifus, kolera, disentri, diare. Mendidihkan air yang tampak jernih untuk diminum perlu sebagai pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Keruh&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belum tentu air keruh tak layak diminum. Air yang tampak keruh boleh jadi bebas bakteri dan nihil zat berbahaya &amp; beracun karena sudah suci hama, steril, sudah didisinfeksi, juga sudah diolah dengan teknologi membran sehingga bebas zat berbahaya dan beracun. Hanya saja, karena melibatkan rasa (hati) dan rasio (pikiran), maka kita biasanya memilih air jernih daripada air keruh. Padahal, seperti ditulis di atas, air jernih bisa saja tak layak diminum karena kaya bakteri, virus, dan/atau berisi zat berbahaya &amp; beracun. (Catatan: air olahan membran 99,9% suci hama, tetapi dijadikan keruh lagi dengan membubuhkan suspended solid yang suci hama untuk pembelajaran kepada siswa dan mahasiswa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Baku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah ini digunakan untuk air yang akan diolah, akan dijadikan air yang laik diminum. Ia dapat berupa mata air, air tanah (dangkal &amp; dalam), sungai, danau, waduk, laut, estuari, dll. Bahkan air hujan pun yang ditampung dalam cistern bisa dijadikan sumber air baku. Karena berbeda-beda kualitasnya, maka pengolahan air baku pun berbeda-beda. Ada yang sederhana saja, hanya dididihkan tapi ada juga yang harus diolah dengan teknologi yang rumit dan mahal biayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Bersih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah tafsir dan sering diperdebatkan, istilah air bersih sangat populer di kalangan PDAM. Maknanya dipengaruhi oleh ”definisi” resmi yang ditulis di dalam peraturan pemerintah. Namun menurut kamus, leksikologi, justru air bersih adalah air yang layak, bahkan sangat layak diminum. Ia bersih, ia suci hama, ia mengandung senyawa yang bermanfaat bagi tubuh. Ia padanan dari kata clean water, bukan clear water. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Minum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut istilahnya, yaitu minum, maka air ini adalah air yang layak diminum. Makna leksikalnya juga demikian, siap diminum, drinking water. Air olahan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) ada yang layak diminum, ada juga yang belum. Umumnya, air olahan filter seperti rapid sand filter, slow sand filter perlu didisinfeksi dengan kaporit atau zat lainnya agar layak diminum. Tetapi air olahan filter yang berupa membran, terutama jenis reverse osmosis, dapat langsung diminum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Cuci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua air yang tampak jernih bisa digunakan untuk mencuci. Namun air yang banyak mengandung kation besi dan mangan dapat cepat memudarkan kain, terutama kain putih sehingga menjadi belel, kuning-kecoklatan. Alat-alat plambing seperti kloset, wastafel, lantai keramik, porselen dll juga cepat kusam. Air olahan PDAM, selain sebagai air minum, juga digunakan untuk MCK. Air PDAM ini biasanya dididihkan dulu lalu dibiarkan mendingin sebelum diminum. Ada juga yang mengolah lagi air PDAM ini di rumahnya masing-masing dengan teknologi membran yang banyak dijual di toko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Limbah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua air yang digunakan untuk berbagai-bagai kegiatan akan berubah menjadi air limbah. Ada air limbah rumah tangga (domestik), ada air limbah industri, dan air limbah yang karakteristiknya sama dengan air limbah rumah tangga seperti kantor, mall, hotel, rumah sakit, dll. Semua air limbah, teoretisnya, harus diolah karena berpotensi mencemari lingkungan. Banyak ragam cara dapat diterapkan untuk mengolah air limbah, tetapi tidak semua cara itu dapat efektif dan efisien mengolahnya. Satu teknologi pengolahan berbeda dengan teknologi lainnya, ada positif, ada negatifnya. Teknologi sederhana, biasanya murah harganya, kemampuannya juga lebih rendah dibandingkan dengan teknologi yang lebih lengkap. Hal yang sama terjadi pada teknologi pengolahan air minum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Seni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua dunia seni, baik itu seni suara, seni lukis, seni pahat, dan seni-seni lainnya, pasti melibatkan orang-orang. Nah...., orang-orang ini pasti juga mengeluarkan air limbah setiap hari justru agar sehat. Air yang dibuang inilah yang disebut air seni meskipun bukan seni. Tapi...., semua orang yang bukan orang seni, bukan seniman, juga membuang air seni. Yahh... begitulah, nama seni ini menjadi salah kaprah jugakah? Entahlah. Eh sorry... “jenis air” terakhir ini agak ngelantur karena mata sudah ngajak tidur, ingin ke kasur, lalu mendengkur. Eh..., gak kok, gak mendengkur. Hehehe. Adakah orang yang pernah mendengar langsung dengkurannya? Banyak orang membantah dibilang mendengkur saat tidur karena ia memang seumur-umur belum pernah mendengar dengkurannya. Hehehe... sudah dulu ya, soalnya makin ngelantur aja nih tulisanku. Bisa sesat nanti. Bukan aliran air, tapi aliran sesat, sat, sat sat.... satelit. :):) *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-8723751930661079388?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/8723751930661079388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=8723751930661079388&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/8723751930661079388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/8723751930661079388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2011/12/air.html' title='A I R'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-6480353645298134602</id><published>2011-09-09T20:35:00.000-07:00</published><updated>2011-10-09T20:42:07.303-07:00</updated><title type='text'>Ekosistem Akuatik</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ekosistem Akuatik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada definisinya, ekosistem akuatik ialah ekosistem yang mayoritas terdiri atas air, menjadi habitat makhluk hidup. Contohnya ialah ekosistem air tawar yang bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ekosistem Lentik: ekosistem yang airnya tergenang (relatif diam) seperti danau, waduk, kolam, rawa, embung, dll. Lentik diturunkan dari kata lenis (bahasa Latin) yang artinya tenang. Ekosistem Lotik (Latin: lotus , artinya alir), ialah ekosistem yang airnya mengalir, seperti: sungai, selokan, dll. Fungsi ekosistem akuatik ini antara lain sebagai sumber air minum, pengairan, air industri, perikanan, PLTA, rekreasi, sumber riset ilmu dan teknologi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ekositem Lentik - Lotik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hal penting di dalam ekosistem Lentik ini adalah zonasi yang berkaitan dengan kedalaman airnya dan daya tembus sinar matahari di dalam air. Ini dibedakan menjadi tiga, yaitu Zone Litoral, nama yang diberikan untuk zone di tepi danau, waduk, kolam dan sinar matahari dapat menembus sampai ke dasar, tempat perakaran tumbuhan air. Zone limnetik, berada di antara permukaan air dan lapisan air yang masih dapat dicapai oleh sinar matahari. Di bagian terbawah zone ini, laju fotosintesis tumbuhan masih sama dengan atau lebih besar daripada laju respirasi. Zone profundal, terletak di bagian dalam atau dasar badan air sehingga tidak dapat dimasuki oleh sinar matahari. Andaipun cahaya masih bisa masuk, tetapi tidak efektif untuk fotosintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kelahiran ekosistem Lentik berbeda-beda. Danau, misalnya, ada yang terbentuk karena patahan formasi geologi lalu berisi air, seperti Danau Toba. Ada juga yang terbentuk karena peristiwa vulkanik, seperti Danau Lamongan. Danau buatan seperti Saguling, biasa disebut waduk, sengaja dibuat dengan cara membendung Sungai Citarum. Seperti ekosistem Lentik, ekosistem Lotik pun berperan penting sebagai sumber makanan, yaitu udang, ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://gedehace.blogspot.com/2010/12/ekosistem-akuatik.html"&gt;Artikel Lengkap&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-6480353645298134602?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/6480353645298134602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=6480353645298134602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/6480353645298134602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/6480353645298134602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2011/09/ekosistem-akuatik.html' title='Ekosistem Akuatik'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-4749023834193814494</id><published>2011-08-03T12:57:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T01:02:49.740-07:00</updated><title type='text'>ZAMZAM Bukan ZAMP</title><content type='html'>ZAMZAM BUKAN ZAMP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Bambang Pranggono menulis buku yang berisi sekumpulan artikel berkategori dengan judul &lt;b&gt;Mukjizat Sains dalam Al Qur’an, Menggali Inspirasi Ilmiah&lt;/b&gt;. Yang menarik dan berkaitan dengan beberapa artikel terakhir yang dirilis di sini, yaitu tentang ZAMP (Zone Air Minum Prima) dan sistem penyediaan air minum kota (&lt;i&gt;municipals water supply system&lt;/i&gt;). Di halaman 192 arsitek dan dosen Unisba ini menulis sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan, insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas. Rasulullah Saw bersabda, “Zamzam lima syuriba lahu : Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya.” Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Subhanallah. Pantaslah air Zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alinea sebelumnya berbunyi, &lt;i&gt;“Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5%, darah 82%, tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih gallon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusuk kepada Allah agar anak yang meminumnya saleh, sehat, cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin yang dapat diambil adalah perihal mendoakan air, secara ikhlas, untuk kemanfaatan peminumnya. Dengan kata lain, apabila direksi PDAM adalah orang saleh, insan-insan PDAM juga saleh dan ikhlas mendoakan air yang diolahnya agar bermanfaat untuk kesehatan, kesalehan dan kecerdasan peminumnya (pelanggannya) maka efeknya akan luar biasa. Sebaliknya, kalau insan PDAM dan pemangku tugas (stakeholders) PDAM tidak ikhlas, tidak berdoa dan mendoakan air olahannya, maka dampak negatiflah yang muncul. Yang terbaik adalah para pelanggan berdoa dan mendoakan airnya, para direksi dan insan PDAM juga berdoa dan mendoakan airnya, baik untuk pelanggan maupun untuk diri dan keluarganya. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Dr. Masaru Emoto tentang perilaku air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu (Allah yang Mahatahu), dengan mendoakan air di dalam ZAMP maka manfaat dan efeknya mendekati atau bahkan sama dengan ZAMZAM. Pada saat yang sama, kalau insan PDAM dan direksinya tidak ikhlas dalam mengelola PDAM, maka hasilnya akan buruk dan keburukannya itu kembali kepada dirinya. Perilaku demikian akan langsung merusak suasana spiritual sehingga dicap sebagai direksi atau insan PDAM yang belum melakukan zikir air, padahal bekerja di perusahaan air. Juga termasuk orang yang tidak respek dalam memperlakukan air, pipa sering bocor tetapi tidak segera diperbaiki sehingga airnya mubazir, dan bahkan dicemari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah ZAMP berubah menjadi “ZAMZAM”? Atau..., akankah air di dalam sistem PAM kota membentuk kristal heksagonal yang indah? Kalau betul-betul menjadi kristal segienam yang indah, berarti direksi dan insan PDAM, juga bupati-walikota, dan anggota DPRD setempat sudah sering berdoa dan berzikir kepada Allah. Mudah-mudahan demikian. Aamiin. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah2an saja penelitian Pak Masaru Emoto itu ada yang meneruskan dan meliputi air minum selain mata air dan air embun. Kalau dinilai dari kualitasnya, logikanya air filtrat RO bisa memenuhi karakteristik air dari mata air dan air embun, sama persis dengan air yang diperoleh lewat teknologi distillasi surya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;solar distillation&lt;/span&gt;) dan MSF (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;multistage flash evaporator &lt;/span&gt;atau distillasi (penguap) sekejap multitahap) shg strukturnya bisa juga menjadi heksagon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga juga air kotor atau air buangan atau air limbah tidak menampakkan wajah setan atau iblis. Kita berharap direksi PDAM, khususnya direktur yang mengurusi sektor air kotor (air limbah, air buangan, domestic wastewater) rajin berdoa dan mendoakan air olahannya agar polusinya ringan-ringan saja, tidak berat, tidak pekat. Begitu pula karyawannya, selain terus berdoa, juga berusaha mengoperasikan dan merawat IPAL-nya agar tinggi efisiensinya shg alam masih mampu mengasimilasi polutannya, mampu bebersih diri (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;self-cleansing&lt;/span&gt;) atau swabersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ZAMP, moga2 nanti tidak hanya berupa “zona yang sempit” tetapi dapat berkembang menjadi Zaman Air Minum PDAM yang berarti mayoritas air minum di masyarakat sudah layak diminum dan berasal dari pasokan PDAM. Syukur-syukur kalau bisa berkualitas seperti air ZAMZAM, seiring dengan intensitas doa yang terus mengalir dari direksi, insan PDAM, pelanggan, dan pemangku tugas lainnya. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-4749023834193814494?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/4749023834193814494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=4749023834193814494&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/4749023834193814494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/4749023834193814494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2011/08/zamzam-bukan-zamp.html' title='ZAMZAM Bukan ZAMP'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-378613884078771379</id><published>2010-10-17T22:19:00.000-07:00</published><updated>2012-01-05T02:19:55.269-08:00</updated><title type='text'>Asas Pembangunan Lingkungan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ASAS-ASAS PEMBANGUNAN LINGKUNGAN HIDUP&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PIDATO  ILMIAH DALAM RANGKA DIES NATALIS KE XXV DAN &lt;br /&gt;WISUDA SARJANA KE VIII TAHUN 2010 UNIVERSITAS KEBANGSAAN&lt;br /&gt;DI AULA UNIVERSITAS KEBANGSAAN, BANDUNG, 16 OKTOBER 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;oleh Prof. Dr. Ir. Mubiar Purwasasmita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda&lt;br /&gt;Dosen Fakultas Tekologi Industri ITB Teknologi Kimia &lt;br /&gt;Dosen Sekolah Pascasarjana UPI Kajian Fenomenologi Nilai &lt;br /&gt;Dosen Sekolah Pascasarjana UNAIR Ekonomi Islam &lt;br /&gt;Dosen Fakultas Psikologi UNPAD Konsep Teknologi &lt;br /&gt;Jalan Ganesha No. 10  Bandung 40132&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hipotesa keilmuan yang melandaskan diri pada keterbatasan sumberdaya alam karena pertambahan penduduk ternyata tidak benar dan mengingkari  keyakinan kehadiran Kasih sayang dan Kemahadilan Allah Yang Mahakuasa. Keberlanjutan kehidupan manusia justru  memerlukan pertambahan kehidupan lain, yaitu tanaman dan binatang, sehingga hipotesa keilmuan yang seharusnya diterapkan adalah memelihara dan menjamin terjadinya keseimbangan antara pertambahan penduduk dengan pertambahan tanaman dan binatang. Pertambahan kehidupan  memerlukan ruang  hidup untuk tumbuh, bergerak, menyimpan pasokan air dan udara sebagai sumber kehidupan. Dengan demikian dapat diidentifikasi adanya dua siklus utama yang berinteraksi kuat dalam suatu ekosistem yaitu siklus ruang dan siklus kehidupan, yang seharusnya menjadi sasaran semua upaya keilmuan. Rujukan hipotesa baru ini akan mencetuskan berbagai kegiatan ramah lingkungan dan ramah kehidupan, seperti pertanian, perindustrian, perekonomian, dan pengembangan wilayah yang ramah lingkungan. Dikemukakan pula tiga prinsip pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin keberlanjutan, yaitu paradigma  keterkaitan alami (ekosistem), keterkaitan hayati (keanekaragam), dan  keterkaitan insani (kesejahteraan). Ketiga prinsip dasar ini memerlukan pemahaman yang benar, utuh dan tulus pada semua tingkatan, namun penguasaan keterampilan dan penerapannya akan berbeda sesuai dengan kemampuan dan skala interaksi yang mampu dilakukannya. Ketiga prinsip dasar tadi sebenarnya sudah merupakan kearifan budaya lokal di Tatar Sunda, yang akan memelihara keberlanjutan peradabannya dengan mengacu prinsip siliasih, siliasah, dan siliasuh, untuk meraih predikat Siliwangi. Pengelolaan ketiga prinsip keterkaitan di atas  merujuk polapikir kesinambungan yang memperhatikan struktur ekosistem untuk pengembangan infrastruktur alam dan buatannya, evolusi nilai pembudayaannya, dan pengembangan kelembagaan upaya penerapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan hipotesa baru keilmuan pada olah lahan membuka inovasi penggunaan kompos sebagai generator siklus ruang dan mikroorganisme lokal (MOL) sebagai pemicu terjadinya siklus kehidupan, dan bangunan  keterkaitan alami, hayati dan insani secara utuh mampu membuka paradigma baru penyuburan bumi untuk mewujudkan kesejahteraan penduduknya, khususnya bagi para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kata Kunci &lt;/span&gt;: &lt;br /&gt;Hipotesa Baru Keilmuan, Siklus  Ruang, Siklus Kehidupan, Keterkaitan Ekosistem, Keterkaitan Keanekaragaman, Keterkaitan Kesejahteraan, Model Budaya, Siliasih, Siliasah, Siliasuh, Siliwangi, Infrastruktur Alam, Infrastruktur Buatan,  Siklus Udara, Siklus Air, Siklus Biomassa, Ekosistem Bioreaktor-Tanaman, Kompos, Mikroorganisme lokal (MOL), Intensifikasi Proses (PI), Production on demand (POD), Pendidikan Lingkungan Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hipotesa Baru Keilmuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hipotesa keilmuan yang melandaskan diri pada keterbatasan sumberdaya alam akibat pertambahan penduduk perlu dipertanyakan. Karena kalau hipotesa ini benar berarti Gusti Allah tidak adil, hanya memberikan yang lebih baik kepada generasi terdahulu, padahal keyakinan agama mengajarkan Kemahaadilan Allah yang melebihi batas waktu seperti itu. Lebih lanjut untuk mengatasi masalah terbatasnya sumberdaya alam ternyata banyak pilihan yang ditawarkan sebagai solusi ilmiah hanya menjadi sumber pembenaran ketidakadilan. Hal ini terjadi karena pengembangan ilmu yang menganggap dirinya harus bebas nilai, akhirnya tunanilai, dan sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesa keilmuan yang lebih benar yang mengacu adanya fenomena nilai harus dicari,  dengan kembali mempertanyakan apalagi yang bisa bertambah di muka bumi ini selain manusia, karena memang jumlah tanah, air dan udara adalah tetap tidak bertambah. Ternyata yang bisa bertambah hanyalah tanaman dan binatang, sementara keberlanjutan kehidupan manusia justru  memerlukan pertambahan kehidupan lain yaitu tanaman dan binatang. Sehingga hipotesa keilmuan yang seharusnya diterapkan adalah memelihara dan menjamin terjadinya keseimbangan antara pertambahan penduduk dengan pertambahan tanaman dan binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk menambah tanaman dan binatang ilmu lama memberikan solusi dengan menambah luasan lahan sehingga terjebak pada hipotesa keterbatasan sumberdaya alam. Padahal yang diperlukan untuk pertambahan kehidupan adalah pertambahan ruang  hidup untuk tumbuh, bergerak, menyimpan pasokan air dan udara sebagai sumber kehidupan, bukan pertambahan luas lahan. Fenomena rekayasa pertambahan ruang ini secara alami diajarkan oleh tanaman, yang tumbuh berdahan, bercabang dan beranting, menambah ruang hidup yang memberikan kesempatan hidup bagi banyak makhluk lain. Kemudian pada saat tanaman mati, dikompos lalu dikubur dalam tanah, memberikan banyak ruang kecil bagi kehidupan mikro di dalam tanah. Kehidupan kecil ini tidak akan ada kalau ruang hidupnya tidak disediakan, dan kalau kehidupan berskala kecil ini tidak ada maka kehidupan berskala besar pun tidak akan ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian dapat diidentifikasi adanya dua siklus utama yang berinteraksi kuat  di alam ini yaitu siklus ruang dan siklus kehidupan, yang seharusnya kedua siklus utama ini menjadi sasaran semua upaya keilmuan. Rujukan hipotesa baru ini akan mencetuskan berbagai kegiatan ramah lingkungan dan ramah kehidupan, seperti pertanian, perindustrian, perekonomian, dan pengembangan wilayah yang  ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paradigma Keterkaitan Alami (Ekosistem)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan alami atau keterkaitan ekosistem mendefinisikan batas alam interaksi keberadaan seluruh unsur alam, makhluk hidup dan manusia lainnya dalam satu ruang alam yang sama. Bentuk keterkaitan ekosistem yang sering diungkapkan adalah fenomena globalisasi, suatu peristiwa alamiah yang menggeser pendekatan sistem terbuka menjadi sistem semitertutup atau sistem tertutup. Mengubah pandangan konsep nilai tambah ke nilai manfaat, yang meminimumkan masukan sumberdaya alam dan keluaran limbah, yang memelihara hak-hak alam sehingga kesinambungan dijamin oleh kompleksnya siklus rangkai manfaat, bukan oleh penguasaan hulu hilir sepenuhnya secara sepihak. Suatu siklus rangkai tertutup dari berbagai usaha yang saling terkait dirancang untuk memaksimumkan nilai manfaat dan meminimumkan penggunaan sumberdaya alam serta buangan limbahnya, yang sekaligus menjamin berlangsungnya semua aktivitas secara berkesinambungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa sehari-hari pendekatan sistem terbuka dinyatakan dalam ungkapan “saya hanya peduli pada diri saya sendiri, karena yang lain bukan bagian dari sistem saya atau di luar sistem saya, yang penting bagi saya, harus membuat untung sistem saya saja, saya tidak peduli orang lain rugi”. Ungkapan kata akan berubah tatkala menggunakan pendekatan sistem semitertutup menjadi : “saya dan yang lain berada dalam satu sistem yang sama, sehingga saya dan yang lain harus sama-sama untung, saling menarik manfaat ”. Pernyataan terakhir ini identik dengan pesan kearifan budaya lokal Sunda: Siliasih, yaitu saling mengasihi karena berada bersama dalam satu sistem yang sama: sadulur, sasumur, salembur, dan seterusnya sesuai dengan skala interaksi keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paradigma Keterkaitan Hayati (Keanekaragaman)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara alamiah penganekaragaman terjadi karena adanya interaksi  multikomponen dan multiskala yang memiliki ciri khasnya masing-masing pada suatu ekosistem yang terdefinisi. Kehadiran banyak skala dan banyak pihak ini justru untuk saling menguatkan dan menstabilkan dinamika ekosistem pada tingkat efisiensi dan efektivitas yang paling baik untuk suatu ketersediaan sumberdaya tertentu, sehingga lebih menjamin berlangsungnya kesinambungan peradaban. Contoh alam paradigma ini diberikan oleh aliran air di sungai yang terlihat memiliki banyak pusaran besar atau kecil yang masing-masing berputar pada porosnya selain mengikuti aliran utama sungai itu sendiri.  Keterkaitan keanekaragaman juga dapat ditunjukkan dengan cara putaran perekonomian mikro, makro dan global yang tidak bisa dibiarkan semata-mata hanya berputar pada satu poros perputaran ekonomi global saja, karena hal tersebut hanya akan menambah beban,  memberatkan dan menyebabkan keruntuhan putaran ekonomi secara keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi pada fenomena perubahan iklim global akibat keseimbangan ekosistem pada skala mikro dan regionalnya tidak tercapai sehingga semua penyimpangan terakumulasi pada skala yang paling besar yang mengakibatkan terjadinya bencana yang semakin sering dan besar daya rusaknya. Inilah yang melahirkan kesadaran think globaly but act locally, berfikir harus dengan wawasan global tapi dalam bertindak harus dalam keterkaitan utuh setempat atau secara lokal. Memulai dari yang kecil, dari diri sendiri, pada saat ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sosial-budaya paradigma ini merupakan upaya yang akan mencegah terjadinya sentralisasi dan penyeragaman yang selalu akan membuat kerdil dan tidak bertahan lama. Tuntutan kebebasan, otonomi dan perlindungan hak asasi manusia adalah bentuk pengungkapan paradigma ini dalam bahasa sosial-budaya, seperti juga ungkapan pesan kearifan budaya Sunda Siliasah, saling mendukung dan memberi peluang kebebasan untuk berkembang secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paradigma Keterkaitan Insani (Kesejahteraan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan kesejahteraan ditunjukkan dengan tumbuh-kembangnya ekonomi jasa secara eksponensial. Pentingnya usaha jasa ini dapat diukur dengan melihat kenyataan keberhasilan ekonomi di suatu tempat sangat ditentukan oleh usaha jasanya yang efisien dan efektif, hampir 70% kegiatan ekonomi adalah usaha jasa, peluang kerja yang dapat diciptakan sangat luas baik jenis maupun jumlahnya, raihan kesejahteraan yang diberikan dapat meningkatkan secara berarti dan merata di berbagai lapisan masyarakat, jauh lebih baik daripada sekedar pemerataan kekayaan dari yang kaya kepada yang miskin, berkembangnya usaha jasa dalam masyarakat akan berdampak baik pada peningkatan layanan publik oleh masyarakat, yang berarti menciptakan privatisasi layanan publik secara spontan dan benar, serta menciptakan birokrasi pemerintahan yang lebih ramping sehingga efisien dan efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan kesejahteraan pada kesempatan kerja jasa menyangkut kemampuan atau keterampilan yang khas pada setiap individu atau kelompok, sehingga sebenarnya pengangguran itu tidak perlu terjadi bila keterkaitan usaha jasa bisa dibangun secara spontan, yang pada akhirnya juga akan membangun keterkaitan kesejahteraan manusia seluas mungkin. Kesempatan tersebut tentunya terbuka selama kualitas dan kemampuan diri manusianya tersedia dan memenuhi kualifikasi yang diharapkan. Terbukanya peluang kesempatan kerja tidak karena ketiadaan melainkan karena kesiapan manusianya yang setiap saat dapat diantisipasi oleh pendidikan dan perencanaan kerja. Ekonomi jasa tidak dapat dipaksakan dengan kemampuan yang tidak teruji, melainkan timbul secara spontan karena kesiapan manusianya baik secara kemampuan maupun kemauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keterkaitan kesejahteraan timbul bukan karena membagi-bagikan uang atau kekayaan melainkan dengan keterbagian kesempatan kerja yang sesuai di antara manusia yang ada. Paradigma ini sangat mendasar bagi kemanusiaan, yang dalam pesan nilai  kearifan budaya Sunda disebut Siliasuh, saling membuka peluang atau memfasilitasi agar semua orang dapat bekerja atau berkiprah sesuai dengan kemampuannya untuk kesejahteraan bersama, rempug jukung babarengan nyambut gawe sauyunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kerangka Pikir  Kesinambungan Struktur Ekosistem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat tiga aspek penataan yang diperlukan untuk menjamin kesinambungan, yaitu: Struktur Ekosistem, Perkembangan Nilai,  dan Perkembangan Kelembagaan. Pemahaman ekologi sangat penting untuk dapat merancang struktur keterkaitan ekosistem. Keterkaitan ini akan menjadi operasional kalau ditunjang oleh infrastruktur yang diperlukan. Investasi infrastruktur sangat mahal, namun merupakan suatu kemestian, sehingga perlu dipahami dengan baik adanya infrastruktur alam dan infrastruktur buatan. Perbedaan mendasar dari infrastruktur alam dan infrastruktur buatan adalah pada keandalan proses alam yang harus ditegakkannya. Infrastruktur alam seperti hutan, sungai, danau dan sebagainya memberikan jaminan agar siklus alam yang dihasilkannya benar-benar ditunjang oleh proses alam yang tidak terpotong-potong sehingga biaya operasi dan investasinya dapat ditekan seminimal mungkin. Peran infrastruktur alam umumnya tidak tergantikan, sehingga infrastruktur buatan hanya dibuat untuk menguatkan peran infrastruktur alam, dan tidak akan pernah mampu menggantikannya. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur harus dimulai dengan penyelamatan atau pemulihan fungsi infrastruktur alamnya terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal tertentu peran infrastruktur alam ini sangat menentukan sehingga bukan saja tidak tergantikan bahkan pengabaiannya akan menjadi sumber bencana, menutup peluang penambahan kapasitas dan peningkatan nilai manfaat, inilah yang biasa disebut dengan pusaka alam atau warisan alam, seperti puncak-puncak gunung, puncak-puncak bukit, lembah alam, hutan pantai, lorong angin, urat air dan lainnya yang secara kearifan budaya lokal yang sering dianggap keramat. Pengeramatan ini lebih bersifat metoda edukatif,  karena seringkali makam yang dirujuk sebagai keramat hanyalah kuburan kosong belaka, semata-mata untuk mencegah agar para pengembang tidak merambah hingga ke puncak-puncak gunung atau bukit, dengan ditunjukkan seakan-akan wilayah itu sudah ada yang menguasai yang maha adil dan maha mengetahui, aya anu ngageugeuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan budaya Sunda membagi ketinggian topografis gunung atau bukit  menjadi tiga  bagian, yaitu : 1/3 pada bagian puncak merupakan wilayah hak alam tempat awan sumber air terikat, bagian ini sama sekali tidak boleh diganggu oleh aktivitas manusia, disebut leuweung tutupan; 1/3 pada bagian tengah merupakan hak kehidupan agar tanaman dan binatang dapat berkembang biak, disebut leuweung titipan; dan hak untuk manusia untuk memanfaatkannya secara komersial berada pada 1/3 bagian paling bawah, disebut leuweung baladaheun. Budaya Sunda mengartikan leuweung dengan penuh makna sehingga mampu menjamin kesinambungan dan keberlanjutan, tidak sebatas dengan apa yang disebut hutan yang bermakna terbatas. Oleh karena itu, tidak perlu kaget bila kearifan budaya Sunda menginginkan sebuah kota di leuweung bukan sekedar hutan kota. Tatar Sunda memang berbasis budaya leuweung, baik itu  lahan pertanian, permukiman, desa, kota maupun infrastruktur buatan lainnya tidak boleh mengurangi atau meniadakan makna yang kaya dari leuweung, yaitu adanya keterkaitan alami, hayati dan insani yang paripurna. Memang peran infrastruktur alam hutan sebagai generator oksigen, air dan biomasa tidak terbantahkan, sehingga konsep hutan sebagai kawasan lindung harus dikonsepsikan lebih utuh lagi sebagai leuweung: leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (no forest, no water, no future).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam penanganan infrastruktur  pada umumnya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, menyangkut semua sektor aktivitas, tidak ada dominasi sektor tertentu, semua sesuai dengan manfaat dalam keterkaitannya; yang kedua adalah menyangkut cara menetapkan pilihan alat dan prosedur yang menjamin tercapainya interaksi keterkaitan; dan yang ketiga adalah inisiatif yang merupakan inti dari upaya pengembangan yang berkesinambungan. Jelas sekali bahwa tugas research and developement (R&amp;D) pada dasarnya adalah mengelola inisiatif, terutama dari dalam yaitu dari sumber daya manusianya. Oleh karena itu pengelolaan sumberdaya manusia menjadi sangat vital. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga unsur keberlanjutan akan bermuara pada mutu kemampuan manusianya, bukan saja dalam inisiatif operasional namun juga dalam inisiatif pengembangan nilai atau pembudayaan, maupun pengembangan kelembagaannnya. Kemampuan orang seorang diri akan selalu terkalahkan oleh kemampuan terorganisir dalam kerjasama, misalnya dalam ketahanan dan kecermatan. Demikian juga nilai yang berkembang secara bersama dalam pembudayaan masyarakat akan lebih tahan dan lebih dapat diandalkan daripada peningkatan nilai individual semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kerangka Pikir Kesinambungan Evolusi Nilai dan Kelembagaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jaminan agar proses keterkaitan berlangsung ke arah yang lebih utuh dan berkesinambungan adalah tumbuh-kembangnya kelembagaan yang terkait, yaitu lembaga pemberdayaan maupun lembaga pembudayaannya. Upaya pemberdayaan sekurang-kurangnya memerlukan tiga lembaga pemberdayaan, yaitu lembaga keuangan, lembaga pasar, serta lembaga penyimpanan dan penyampaian. Ketiga lembaga ini akan berbeda untuk setiap skala ruang dan waktu yang berbeda. Penggabungan kelembagaan secara vertikal untuk semua skala akan menghasilkan mekanisme sentralisasi dan penyeragaman yang bertentangan dengan paradigma multiskala atau keanekaragaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga keuangan terdiri atas lembaga keuangan mikro di perekonomian rakyat, lembaga keuangan makro di perekonomian nasional, dan lembaga keuangan dunia (mega) dalam perekonomian global. Keterkaitan vertikal yang sentralisasi di antara lembaga ketiga skala tersebut membuat praktik ekonomi sangat bergantung pada putaran global yang mengakibatkan kerentanan untuk mengalami krisis kemandekan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga pasar juga seharusnya memperhatikan paradigma multiskala, sehingga antara pasar dunia, pasar regional, pasar nasional, dan pasar tradisional harus jelas perbedaan mekanismenya. Secara fisik pasar saat ini masih merupakan tempat tercampur baurnya berbagai kegiatan mulai dari tempat menjajakan, menyimpan hingga tempat tinggal pedagangnya sekaligus. Padahal dalam perkembangannya ke masa depan pasar bukan lagi untuk menjadi gudang atau pusat pengepakan barang melainkan akan lebih merupakan pusat pertukaran informasi, sementara barangnya sendiri bisa langsung dikirim dari gudang atau produsen ke konsumen. Pasar modern akan menjadi pusat informasi bagi putaran skala ekonominya, sementara pasar tradisional akan tetap bertahan sebagai sarana pertukaran barang sekaligus sehingga secara fisik perlu dirancang kembali agar fasilitas dan fungsi layanannya lebih cepat, efisien dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga penyimpanan dan penyampaian, khususnya untuk barang, praktis belum dipahami secara luas terutama berkaitan dengan paradigma multiskala. Hilangnya pengertian lumbung rumah atau lumbung desa untuk putaran perekonomian desa juga adalah akibat hilangnya kesadaran akan keberadaan paradigma multiskala. Upaya pembudayaan atau evolusi nilai merupakan upaya untuk proses kesinambungan yang akan berfungsi membangun kepekaan aspiratif untuk meningkatkan potensi manfaat. Upaya ini juga sekurang-kurangnya memerlukan tiga lembaga, yaitu lembaga keyakinan, lembaga silaturahmi dan lembaga pembelajaran atau pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga keyakinan berfungsi seperti bank aspirasi yang akan memelihara arah evolusi nilai mulai dari keyakinan ilahiyah (ketakwaan, moralitas dan akhlak) menjadi aspirasi keikhlasan dan kearifan yang lebih operasional dalam aktivitas pembudayaan sehari-hari.&lt;br /&gt;Lembaga silaturahmi atau kenduri berfungsi seperti pasar aspirasi untuk membangun nilai kebersamaan dan sinergi secara berkesinambungan dalam aktivitas pembudayaan sehari-hari. Lembaga pembelajaran berfungsi sebagai gudang dan wahana perpindahan aspirasi, tempat tumbuh kembangnya aspirasi secara berkesinambungan dalam aktivitas pembudayaan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Model Budaya Pengelolaan dan Pendidikan Lingkungan Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Model budaya akan menjadi sumber inspirasi dan aspirasi bagi tumbuh kembangnya kreativitas dan evolusi nilai dalam pendidikan sehari-hari. Tanpa sumber inspirasi dan aspirasi, pendidikan menjadi hanya sebatas mesin produksi atau infrastruktur ekonomi semata, bukan merupakan bagian dari ruh kesinambungan membangun peradaban kemanusiaan. Produknya hanya akan berupa keangkuhan ilmu dan miskin manfaat, baik secara individual maupun profesional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun model budaya merujuk langkah berikut: &lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Mengidentifikasi ciri kunci budaya; &lt;br /&gt;2. Mendefinisikan lingkup wilayah; &lt;br /&gt;3. Menciptakan budaya kerja sendiri; &lt;br /&gt;4. Mengevaluasi dengan memperbandingkan terhadap standar global; &lt;br /&gt;5. Menyempurnakan dan percepatan dengan koreksi pada langkah 1, 2 dan 3. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ciri kunci budaya bagaikan unsur genetika dalam kehidupan, artinya merupakan ciri hidup, daya hidup, bahkan mencakup penangkalan terhadap potensi penyimpangan karena semua kecenderungan telah terpetakan dalam ciri kunci budaya ini. Ciri kunci budaya Sunda yang sangat berharga untuk upaya ini adalah rujukan siliasih, siliasah, dan siliasuh yang sebenarnya merupakan kesadaran keterkaitan ekosistem (globalisasi), keterkaitan multiskala (keanekaragaman), dan keterkaitan kesejahteraan (ekonomi jasa), yang sangat sesuai dengan rujukan pendidikan pascamodern membangun keterkaitan alami, hayati dan insani, yang diharapkan mampu memberi dasar kemampuan bersinergi  saling mewangikan, siliwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konsep Alam Cerdas Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fenomena pergeseran lempeng bumi di Indonesia dan kerentanan pergerakan tanah di Jawa Barat memberikan kesadaran akan konsep alam cerdas pertama yang harus dipahami, karena akan melandasi rancangan peradaban kemanusiaan yang akan dibangun di Nusantara. Kearifan budaya Sunda sudah merespon dengan baik kenyataan alam ini dengan membangun rumah-rumahnya menggunakan material bambu yang ringan dan lentur, dan tidak meletakkan pemukimannya di lereng bukit yang labil sehingga mampu meredam bencana ketika gempa bumi terjadi. Kealfaan akan hal ini mengundang bencana alam yang besar dan memaksa penduduknya untuk mengkaji ulang ketahanan papan dalam perjalanan peradabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep alam kedua adalah pergerakan aliran udara dan air di Indonesia yang dalam kenyataan alamnya berpulau-pulau besar-kecil dan banyak, yang terbentang di antara dua benua dan dua lautan serta dilintasi garis khatulistiwa. Hal ini menempatkan Nusantara sebagai pusat sirkulasi udara dan aliran air di muka bumi yang terjadi secara bersamaan yang akan berperan penting dan memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi dalam perubahan iklim dan cuaca di dunia, baik global, regional maupun lokal. Sangat layak Indonesia ditempatkan di bagian tengah peta dunia sebagai pusar dunia sehingga mampu menyadarkan masyarakat global maupun lokal akan peran penting alami Nusantara dalam membuka peluang kehidupan di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep alam ketiga berkaitan dengan kenyataan percepatan pertumbuhan berbagai jenis kehidupan yang tinggi di alam Indonesia. Sesungguhnya hipotesa keterbatasan sumber daya karena pertambahan penduduk, tidak sepenuhnya benar. Kehidupan manusia justru memerlukan kehidupan lain yaitu tanaman dan binatang, sehingga hipotesa yang harus diambil adalah menjamin terjadinya keseimbangan pertambahan penduduk dengan pertambahan kehidupan lainnya. Pertambahan kehidupan tidak semata-mata memerlukan luas bidang lahan sebagai pijakan, namun  memerlukan ruang hidup untuk menjamin tersedianya aliran air dan udara sebagai sumber kehidupan. Indonesia dapat diidentifikasi sebagai tempat terjadinya interaksi kuat dua siklus utama ekosistem yaitu siklus kehidupan dan siklus ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh alam adanya keterkaitan siklus ruang dan siklus kehidupan ini adalah penggunaan kompos sebagai generator siklus ruang pada olah lahan pertanian. Penggunaan kompos pada tanah merupakan input ruang, terutama ruang berskala mikro dalam jumlah yang banyak dengan bentuk dan ukuran  yang beraneka, dan bisa berubah dari waktu ke waktu secara berkelanjutan, yang disebut sebagai siklus ruang. Struktur ruang intensif ini memungkinkan sekaligus fasilitasi  air, udara, perkembangan perakaran dan kehidupan biota tanah yang akan berada dalam ruang hidup tersebut secara bersamaan dan berketerkaitan, menyelenggarakan intensifikasi proses dan mekanisme  production on demand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekayasa ruang dalam tanah ini hanya bisa dilakukan oleh kompos yang mengandung unsur keanekaragaman dan merupakan bahan organik, tidak oleh butiran tanah yang homogen. Ruang antarpori,  antarakar, dan antaragregat dalam tanah lebih diperkaya oleh rekayasa ruang yang dilakukan, sebagai pabrik mikro dengan segala fungsi ruang dan prosesnya. Jumlah dan keanekaragaman hayati yang hidup dalam ruang ini berfungsi sebagai para pekerja pabrik nutrisi bagi tanaman atau mahluk lainnya. Pertumbuhan dan perkembangan biota tanah ini dipicu oleh semaian mikroorganisme lokal yang diaplikasikan pada ruang hidup dalam tanah yang telah tersedia. Sistem kehidupan dalam ruang dalam tanah tersebut kemudian berkembang menjadi suatu siklus kehidupan yang pada gilirannya merupakan suatu siklus nutrisi yang sangat handal di mana tanaman itu sendiri berada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Hutan dan Semak Belukar sebagai Infrastruktur Alam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan peran kompos sebagai generator siklus ruang mikro dalam tanah maka peran tanaman besar adalah sebagai pemicu siklus ruang pada skala makro untuk menegakkan fungsi konservasi baik di hutan maupun di kebun.  Keberadaan tanaman besar yang bisa mencapai ketinggian dan diameter naungan tanaman hingga 10 meter, bercabang banyak dan berdaun lebat dengan ukuran perlembar daun hingga 11-12 cm,  maka tanaman besar akan mampu berfungsi sebagai tajuk puncak atau kanopi utama tutupan hutan, yang memungkinkan fasilitasi siklus kehidupan yang lebih banyak dan beraneka ragam. Dalam kerangka pikir kesinambungan yang seutuhnya, aplikasi tanaman seperti  ini akan membangun ekosistem skala makro sebagai infrastruktur alam untuk menjamin keberlajutan pada skala ekosistem berikutnya yang lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua jenis infrastruktur yaitu infrastruktur buatan seperti jalan, jembatan, bangunan, bendungan, dan infrastruktur alam seperti hutan dan semak belukar, danau, sungai, lembah, puncak-puncak bukit, dst. Hal pertama dan utama yang harus direalisir  adalah infrastruktur alam, karena infrastruktur buatan tidak akan pernah bisa  menggantikannya melainkan hanya untuk memperkuat dan menambah manfaat dari peran infrastruktur alam itu. Dalam kegiatan pertanian untuk pencapaian semua sasarannya peran infrastruktur alam sangat menentukan. Semua masukan primer sistem semitertutup pertanian baik pada skala tanaman, skala kebun, maupun skala global sumbernya hanya dari infrastruktur alam hutan dan semak belukar. Terdapat tiga peran hutan dan semak belukar yang tidak tergantikan, pertama sebagai generator siklus oksigen, kedua sebagai generator siklus air, dan ketiga sebagai generator siklus karbon atau biomassa yang akan menjadi sumber bahan kompos dalam jumlah yang senantiasa tersedia dan dalam ketersebaran yang diperlukan, sebagai  pembangkit siklus ruang dan siklus kehidupan untuk kegiatan pertanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan dan semak belukar, terutama di puncak-puncak bukit dan gunung merupakan generator siklus air yang sangat andal.  Tiga perempat dari hujan yang jatuh di hutan dan semak belukar akan kembali diuapkan sebagai awan yang menggantung di atasnya, sementara seperempatnya secara berkesinambungan akan diatur sebagai pasokan air yang  ke luar sepanjang tahun dari mata air. Jadi gudang air yang sebenarnya adalah di awan di puncak bukit dan gunung itu, yang hanya bisa dikendalikan dengan menurunkan temperatur muka bumi dan memanfaatkan pengaruh topografi bumi terhadap aliran awan rendah tersebut. Satu-satunya upaya untuk dapat melakukan itu adalah dengan menjaga hutan dan semak belukar dalam ruang yang memadai di puncak bukit dan gunung, lembah dan daerah-daerah antarmuka di mana awan dapat ditimbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keterkaitan Ekosistem Multiskala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya digunakan istilah ekosistem bukan lingkungan. Dengan istilah lingkungan seolah-olah ada sistem dan ada bagian di luar sistem yang disebut lingkungan, padahal yang dimaksud adalah baik sistem maupun lingkungannya dianggap sebagai satu sistem bersama. Jadi lebih tepat menganalisis keterkaitan ekosistem, bukan analisis dampak lingkungan. Analisis dilakukan sebelum intervensi terhadap ekosistem dikerjakan. Sasarannya adalah menjamin kesinambungan ekosistem, memelihara ketersediaan, dan menambah manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh alam suatu ekosistem adalah ekosistem tanaman dengan bioreaktornya. Pengendalian sistem semi-tertutup antara tanaman dengan bioreaktornya dalam tanah dengan siklus ruangnya dilakukan oleh tanaman itu sendiri dengan menggunakan mekanisme eksudasi. Eksudat yang secara fisik berupa bahan kimia padat atau cairan adalah komunikator antara tanaman dengan sistem biota dalam bioreaktornya (siklus kehidupan), sehingga terjadi kesesuaian antara bahan yang diperlukan oleh tanaman dan bahan yang diproduksi oleh biota tanah. Siklus kehidupan dalam tanah cenderung menghasilkan jenis nutrisi tertentu sesuai dengan interpretasinya atas informasi yang dibawa oleh komunikator yang berasal dari tanaman secara berkesesuaian dan berkesepadanan. Oleh karena itu penggunaan bahan kimia (buatan) terhadap tanaman baik sebagai pupuk maupun pestisida harus dihindarkan, terutama untuk menjaga agar tidak  terjadi persenyawaan  kimia yang akan mengikat dan menghilangkan fungsi bahan komunikator sehingga informasi dari tanaman tidak dapat sampai kepada kehidupan di dalam tanah, yang akhirnya baik tanaman maupun kehidupan dalam tanah hidup sendiri-sendiri tanpa sinergi dan memutus siklus kehidupan yang seharusnya berfungsi sebagai siklus nutrisi yang dapat diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem semitertutup kriteria yang diukur bukan lagi nilai tambah, melainkan nilai manfaat yang didasarkan pada pertukaran aliran di dalam sistem, yang secara termodinamika merujuk neraca exergetik. Terlihat pada ekosistem skala yang pertama (N1) mencakup interaksi antara tanaman dengan bioreaktornya, maksimasi keluarannya berupa produk panen buah didasarkan pada maksimasi masukan berupa make-up kompos yang ditambahkan. Hal ini sesuai dengan pemahaman di lapangan, karena kegiatan pertanian tidak pernah menghasilkan panen NPK  tetapi memanen CxHyOz berupa pati atau gula atau selulosa dan sebangsanya. Berarti kalaupun ada input yang diperlukan maka seharusnya adalah penambahan  CxHyOz  juga. Berupa penambahan C sebagai  kompos yang selain berfungsi sebagai generator siklus ruang juga berfungsi sebagai sumber C yang memberikan pasokan energi dan gas CO2 secara setempat pada jumlah dan kecepatan  yang bersesuaian dengan kebutuhan tanaman. Penambahan H diberikan berupa ketersediaan air yang tersimpan dalam ruang mikro dalam kompos, dan penambahan O berasal dari udara yang bisa masuk ke dalam ruang mikro di dalam kompos juga. Sementara kebutuhan NPK dan nutrisi mikro dipenuhi sepenuhnya oleh siklus kehidupan yang beranekaragam yang tumbuh dan berkembang dalam siklus ruang yang diciptakan oleh penggunaan kompos, yang merupakan siklus semitertutup antara tanaman dengan bioreaktornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ekosistem skala yang kedua (N2) mencakup bumi dan cahaya matahari yang masuk ke dalam atmosfer bumi yang juga merupakan sebuah sistem semitertutup. Dengan masukan cahaya matahari inilah biomassa berupa hutan dan semak-belukar dapat tumbuh dan berkembang  sebagai sumber bahan kompos untuk menciptakan siklus ruang di dalam tanah, yang pada gilirannya memfasilitasi tumbuh dan kembangnya siklus kehidupan yang dapat mengimbangi kebutuhan nutrisi atau energi yang diperlukan manusia dan pertambahannya. Terbukanya peluang penyeimbangan kebutuhan karena pertambahan penduduk adalah akibat dimungkinkannya pertambahan siklus kehidupan yang dipicu oleh kemampuan pertambahan siklus ruang dalam tanah dengan menggunakan kompos yang bersumber dari pertambahan produksi biomassa di muka bumi ini, yang juga dibangun oleh generator siklus ruang pada skala makro berupa tanaman, pepohonan dan semak belukar yang beragam ukuran, bentuk dan ketinggian dalam biosfer di atas permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rancangan Penerapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rancangan penanaman sumber biomassa dan percepatannya, serta pengelolaannya menjadi generator siklus ruang merupakan langkah awal paling penting untuk meningkatkan kegiatan pertanian dan produktivitasnya, untuk menjamin ketersediaan  pasokan pangan dan energi bagi umat manusia. Teknik pengomposan, saung kompos dan pembudayaan pembuatan dan penggunaan kompos secara mandiri (pada lokasi yang terdistribusi) adalah langkah strategis yang harus digarap dengan baik. Demikian juga  upaya memperkaya jenis dan ukuran tanaman di hutan dan kebun yang juga merupakan generator siklus ruang pada skala makro harus dijadikan rujukan utama pengelolaannya. Dengan ketiga fungsinya sebagai generator siklus oksigen, siklus air dan siklus biomassa, ruang hutan dan semak belukar benar-benar merupakan infrastruktur alam yang sangat menentukan dan harus menjadi prioritas penataan sistem pertanian dan pembudayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dalam kerangka pikir kesinambungan, teknologi intensifikasi proses yang digagas penulis di atas hanyalah memberikan masukan untuk mendapatkan rujukan prosedur kerja, menyangkut masalah teknis dan tampilan fisik semata. Akan tetapi aplikasi secara lebih menyeluruh akan memerlukan rujukan tentang keutuhan aktivitas semua sektor yang ada, yang tentunya harus sejalan dengan upaya pengembangan kelembagaan upaya tani yang seharusnya. Juga memerlukan rujukan upaya inisiatif pengembangan yang harus sejalan dengan rencana pengembangan pembudayaan upaya tani yang seharusnya juga. Hal ini merupakan arah pengembangan pasca-industri yang menggali kembali nilai dasar pertanian untuk penguatan dan penyempurnaan aktivitas perindustrian. Tentunya hal ini akan menjadi peluang besar bagi peran Indonesia dengan  konsep alam cerdas dan kearifan budayanya yang sejalan dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Menerapkan Tani Ramah Lingkungan di Rumah, Kota dan Desa&lt;br /&gt;Lebih lanjut dengan adanya kenyataan ujicoba pertanian di pot yang selalu lebih baik, karena memang rancangan paling sempurna antara tanaman dengan bioreaktornya akan diperoleh dalam pot sementara di lapangan akan melibatkan lebih banyak lagi faktor lain yang akan berpengaruh. Pada kenyataan penggunaan teknologi intensifikasi proses ini di pot mampu memberikan peningkatan produktivitas yang sangat berarti hingga 10 kalinya adalah sesuatu yang bisa dipertimbangkan untuk mengembangkan gagasan  pertanian produktif baru, yang lebih dapat diandalkan, lebih mandiri dengan sumber pasokan, dan lebih menjamin kesinambungan. Maksud tersebut memerlukan perancangan gagasan yang lebih menyeluruh dengan pola pikir yang telah diubah. Memanfaatkan sampah kota untuk kompos, dan menggunakan komposnya untuk pertanian di pot dan dilaksanakan juga oleh masyarakat kota, dan bukan saja untuk maksud estetika atau bahan racikan obat atau bahan bumbu makanan tetapi untuk menjaga ketersediaan dan keanekaragaman pangan sebagai bagian dari program ketahanan pangan dan kesehatan di kota, maka sesungguhnya penulis sedang mulai membangun kembali suatu budaya pertanian kota yang baru, baru  dari sisi argumentasi ilmiah  namun lebih sesuai dengan kearifan budaya  dan kecerdasan lokal yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan pertanian produktif di pot bukan saja membuka peluang pembudayaan pertanian di kota, tetapi juga membawa kegiatan produktif secara terdistribusi ke wilayah konsumen, sehingga prinsip production on demand dapat juga dikembangkan secara multiskala, ke skala yang  lebih luas. Demikian juga kearifan lokal budaya Sunda yang menunjuk leuweung sebagai infrastruktur alam menjadi lebih realistis, karena akan lebih banyak lahan pertanian tersedia yang alih fungsinya justru untuk penguatan infrastruktur alam menjadi hutan dan semak belukar atau leuweung, yang bisa diterapkan secara lebih terdistribusi baik di dataran tinggi, rendah maupun perkotaan. Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak, atau no forest, no water, no future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penegakan asas-asas pembangunan lingkungan hidup merupakan langkah awal dari upaya pembangunan secara menyeluruh dan berkesinambungan di semua sektor pembangunan, bukan sekedar pembangunan sektoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas-asas pembangunan lingkungan hidup bersumber dari hipotesa keilmuan yang menjunjung tinggi keyakinan nilai Kasihsayang dan Kemahaadilan Allah yang Mahakuasa : bertambahnya manusia harus diimbangi dengan bertambahnya tanaman dan binatang atas dasar pengembangan siklus ruang dan siklus kehidupan dengan memperhatikan prinsip-prinsip keterkaitan alami, hayati, dan insani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Struktur Fisik Ekosistem, Kelembagaan Pemberdayaan dan Pembudayaan dalam kerangka pikir kesinambungan memerlukan komitmen dan kerja nyata semua pihak dalam upaya penegakan kegiatan olah lahan yang ramah lingkungan:&lt;br /&gt;o Memulihkan infrastruktur alam untuk menjamin kesinambungan, ketersediaan dan kemanfaatan daur alami air, udara dan biomassa agar siklus ruang dan siklus kehidupan berlangsung menunjang keandalan kinerja pertanian menyediakan pangan, papan dan energi.&lt;br /&gt;o Menggunakan secara maksimal bahan lokal yang strategis seperti kompos dan mikroorganisme lokal serta penguasaan ilmunya untuk membangun kembali jati diri dan kemandirian pertanian.&lt;br /&gt;o Menggunakan potensi keanekaragaman hayati untuk keandalan ketersediaan, manfaat dan kesinambungan.&lt;br /&gt;o Revitalisasi organisasi dan pengembangan kelembagaan pada semua tahap kegiatan pertanian untuk meningkatkan kecepatan, ketepatan dan kecermatan layanan kerja, mencakup semua aktivitas sektor secara menyeluruh sehingga mampu mengantisipasi kompleksitas permasalahan dengan upaya penyempurnaan yang berkelanjutan.&lt;br /&gt;o Mengelola secara seksama potensi pasar domestik dan upaya cerdas untuk menembus pasar dunia.&lt;br /&gt;o Membangun keterbagian yang cerdas dan berkearifan antara kegiatan pertanian untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan maupun bahan energi  terbarukan.&lt;br /&gt;o Membangun metodologi pertanian adaptif yang sesuai dengan kegiatan pertanian di luar Pulau Jawa yang kurang penduduk dengan di pulau Jawa yang rapat penduduk, antara tani rakyat dalam skala keluarga dengan usaha tani dalam skala perusahaan. &lt;br /&gt;o Melakukan upaya pembudayaan kembali kegiatan pertanian pada berbagai lapisan masyarakat dan wilayah di Indonesia di desa maupun di kota sebagai arah peradaban pasca-industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlunya Pendidikan Lingkungan Hidup menunjukkan harapan kuat dari semua pihak agar mampu membangun kenyataan perilaku sehari-hari generasi barunya menjadi lebih pro-lingkungan, pro-kehidupan, dan pro-kemanusian sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu keberadaannya sehingga lebih mampu menjamin kesinambungan peradaban kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi konsep-konsep alamnya yang cerdas dan kearifan budaya lokalnya yang sejalan akan memahamkan generasi baru Indonesia pada wawasan lingkungan alam, kehidupan dan kemanusiaannya secara praktis dan kreatif pada skala individu, keluarga, kota, negara, bahkan global sehingga lebih mampu menciptakan pemecahan masalah lingkungan yang dihadapinya, serta membangun kembali kualitas kehidupan dan kesejahteraannya secara nyata dan  berkelanjutan, sebagai wawasan kebangsaan baru Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mubiar Purwasasmita, “Konsep Teknologi”, ITB, 1990.&lt;br /&gt;2. Mubiar Purwasasmita, ”Kajian Fenomenologi Nilai”, Pascasajana UPI, 2000.&lt;br /&gt;3. Mubiar Purwasasmita, ”Membangun Kemandirian Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal”, Seminar Teknik Kimia Suhadi Reksowardoyo, Bandung, Desember 2007.&lt;br /&gt;4. Mubiar Purwasasmita, ”Wawasan Lingkungan Hidup Kota Bandung”, Semiloka Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Hidup untuk sekolah dasar dan menengah sekota Bandung, UNPAS, 2008.&lt;br /&gt;5. Mubiar Purwasasmita,” Menerapkan Intensifikasi Proses (PI) dan Produksi yang  Berkesepadanan (POD) dalam bidang Pertanian”, Teknik Kimia ITB, 2009.&lt;br /&gt;6. Mubiar Purwasasmita, “System of Rice of Rice Intensification (SRI) : Olah lahan sebagai Bioreaktor- Menerapkan Process Intensification dan Production on Demand dalam Bidang pertanian”, Bahan Seminar yang disampaikan di BALITPA Bogor, Kamis,24 Mei 2007.&lt;br /&gt;7. Mubiar Purwasasmita, ”Wanatani - Upaya Konservasi DAS Hulu Melalui Pemberdayaan Kelompok Tani”, Lokakarya PLA - Departemen Pertanian, SOLO 15 April 2008.&lt;br /&gt;8. Mubiar Purwasasmita, Hutan dan Semak belukar Infrastruktur Alam, Ciomas-Ciamis 2009.&lt;br /&gt;9. Settle,W., “Living Soil, Training exercise for integrated  soils management”, 2000.&lt;br /&gt;10. Christian V. Stevens and Roland Verhe, “Renewable Bioresources, Scope and Modification for non-food application”, Wiley, 2004. &lt;br /&gt;11. P Morrisey, JM Dow, GL Mark, FO Gary, “Are microbe at the root of a solution to world food production : Rational exploitation of interactions between microbes and plants can help to transform agriculture”, European Molecular Biology Organization Reports vol.5, No. 10, 2004.&lt;br /&gt;12. N. Kockmann, “Transport Phenomena in Micro Process Engineering”, Springer-Verlag, Berlin  Haidelberg, 2008.&lt;br /&gt;13. Stankievics, Moulijn, “Re-engineering the Chemical Processing Plant: Process Intensification” , Marcel Dekker Inc, New York, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ucapan terima kasih:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Disampaikan kepada teman-teman, lembaga swadaya masyarakat dan berbagai pihak yang secara konsisten memelopori dan memberikan pemahaman baru tentang keterkaitan alami, hayati, dan insani di berbagai pelosok Indonesia melalui penyebarluasan kegiatan tani ramah lingkungan. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-378613884078771379?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/378613884078771379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=378613884078771379&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/378613884078771379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/378613884078771379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2010/10/asas-asas-pembangunan-lingkungan-hidup.html' title='Asas Pembangunan Lingkungan'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-4520360796492979479</id><published>2010-03-06T14:05:00.000-08:00</published><updated>2010-03-06T14:06:46.113-08:00</updated><title type='text'>Hari Air Dunia, Perpamsi, MAM</title><content type='html'>Maret adalah bulan air [adakah air di bulan? :)]. Tak kurang dari 75% tubuh manusia terdiri atas air. Ini ditegaskan dalam QS. Al Anbiyya: 30, &lt;i&gt;“Dan dari airlah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.”&lt;/i&gt; Ada 63 kali Allah menyebut kata air dan yang ada kaitannya dengan air seperti hujan di dalam Qur’an. Konstitusi kita pun, UUD 1945, pasal 33 ayat 3 bicara tentang air: &lt;i&gt;“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diperdebatkan lagi, air berperan penting dalam kehidupan makhluk. Tak satu makhluk pun dapat hidup tanpa air. Walau demikian, manusia banyak melakukan kerusakan di Bumi yang bertentangan dengan QS. Al A'raaf: 56 dan Al Baqarah: 22. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka Bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al A'raaf: 56)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dialah yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 22)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga disitir di dalam QS. Ar Ruum ayat 41: &lt;i&gt;telah tampak kerusakan (lingkungan) di darat dan di laut karena ulah manusia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana akibat kerusakan lingkungan terus terjadi, silih berganti. Tahun lalu di Situ Gintung, Tangerang, kini di Pasirjambu, Ciwidey, Kab. Bandung. Di Kota Bandung misalnya, hanya dengan curah hujan yang sedang saja, banjir sering terjadi meskipun berupa banjir Cileuncang atau genangan. Di Bandung Selatan lebih parah lagi, luapan Sungai Citarum terjadi selama musim hujan, terus-menerus. Sampah juga begitu, menjadi sumber masalah. Bencana longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir di Leuwigajah dengan korban meninggal ratusan orang menjadi catatan buruk persampahan di Indonesia. Oleh sebab itu, sampah di Bandung diharapkan tidak akan menimbulkan bencana baru lagi, misalnya dengan dibakar di PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Teknologi yang berpotensi mencemari lingkungan udara dan air hendaknya dikaji tidak hanya dari sudut kemampuan teknologinya tetapi juga dari sisi kesiapan sumber daya manusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan akal, dapatlah dihitung luas Bumi ini, yaitu kira-kira 510 juta km2, terdiri atas 148,5 juta km2 (29,12%) daratan dan 361,5 juta km2 (70,88%) lautan. Di darat ada gunung-gunung bagai pasak/paku Bumi, ladang pengembalaan-padang rumput dan padang pasir seluas 62,10 juta km2. Kutub Utara dan Selatan seluas 12,5 juta km2. Daratan Bumi yang sudah dibudidayakan manusia baru sekitar 9,0% tetapi sudah dapat menghidupi manusia sejak Adam - Hawa hingga sekarang (6,6 miliar orang). Bumi ini pun dihuni oleh hewan dan tumbuhan serta binatang renik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah air di Bumi dan di langit pertamanya sekitar 1,4 miliar km3 yang terdistribusi sbb: di laut 97,75%, di Kutub Selatan &amp; Utara dan di puncak gunung yang tinggi sebanyak 1,75%, di daratan 0,40% dan di awan 0,10%. Air yang di darat dan di awan itu sudah menumbuhkan pohon berkayu yang berdiameter 15 cm atau lebih sebanyak 250.689.344.539.909 pohon (UNDP, Juni 2008). Namun pada hari ini jumlah tersebut telah berkurang karena ditebangi manusia dan tumbang karena longsor dan banjir. &lt;i&gt;(Suroso Imam Zadjuli, Prof. Dr., seminar Hari Air Dunia, 09)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyambut Hari Air Dunia, &lt;i&gt;World Water Day&lt;/i&gt;, 22 Maret 2010. Peran besar yang dilakoni PDAM patut diapresiasi di tengah kesulitan yang membelit sejumlah PDAM. Oleh sebab itu, Perpamsi diharapkan mampu menyebarkan ide penyegaran perusahaan ke berbagai PDAM, terutama yang kecil-kecil yang kesulitan SDM, dana, dan sedikit pelanggannya. Salah satu caranya ialah dengan meluaskan media komunikasi majalah profesi, yaitu Majalah Air Minum. Lewat MAM inilah sebaran ilmu dan teknologi, juga ide pengelolaan perusahaan daerah dapat dibagikan dan dibaca oleh semua insan PDAM, mulai dari direksi hingga karyawannya, termasuk bupati, walikota dan anggota DPRD yang memang faktanya, pejabat eksekutif-legislatif ini banyak yang belum paham soal kelola &amp; investasi di sektor air minum sehingga menyulitkan pengembangan PDAM. Jaringan komunikasi lewat MAM yang kini berusia 35 tahun perlu dimanfaatkan oleh Perpamsi, PDAM, supplier, dan... pelanggan PDAM. Untuk poin terakhir, yaitu interaksi sinergis dengan pelanggan... perlu diperluas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam untuk para sahabat di PDAM, Perpamsi Pusat dan Daerah dan pengurus MAM. Selamat milad, ulang tahun untuk MAM, dan selamat Hari Air Dunia. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-4520360796492979479?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/4520360796492979479/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=4520360796492979479&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/4520360796492979479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/4520360796492979479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2010/03/hari-air-dunia-perpamsi-mam.html' title='Hari Air Dunia, Perpamsi, MAM'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-116079212361429964</id><published>2006-10-13T19:13:00.000-07:00</published><updated>2006-10-13T19:15:23.630-07:00</updated><title type='text'>Tarif PDAM Layak Naik</title><content type='html'>Seorang anak sedang bingung. Ia dihadapkan pada buah simalakama. Jika dimakan, bapaknya mati; jika tak dimakan, ibunya yang mati. Setelah lama berpikir akhirnya ia berkeputusan: tidak dimakan! Pertimbangannya adalah jangka panjang atau masa depan. Ia sedang sekolah dan perlu biaya. Bapaknyalah yang selama ini mencari nafkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, di kalbunya ia tetap mencintai ibunya. Ia lahir dari rahim ibunya, disusukan oleh ibunya, disapih juga oleh ibunya. Bukan karena tak sayang pada ibunya, melainkan kondisilah yang menyebabkan ia harus memilih agar masa depannya dapat berlangsung. Dengan ikhlas ia mendoakan ibunya agar diampuni dosa-dosanya. Keikhlasan inilah yang diharapkannya bisa membahagiakan ibunya di akhirat kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buah Simalakama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa hikmah kisah di atas bagi PDAM dan pelanggannya? Naik-tidaknya tarif PDAM mirip buah simalakama. Naik atau tidak, tetap akan berdampak pada PDAM dan pelanggannya. Karena skala prioritasnya berada di kwadran mendesak dan penting, maka keputusan harus segera dibuat dengan segala risikonya. Tinggal dipertimbangkan efeknya pada masa depan, pada kelanggengan pasokan air, pada kualitas kesehatan masyarakat, dan pada upaya pencapaian Millenium Development Goals (MDG), persis seperti evaluasi yang dilakukan oleh anak dalam kisah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pelanggan, kalau tarifnya naik berarti membayar lebih mahal per volume air yang sama. Ini menjadi masalah ketika pendapatannya tetap atau bahkan turun. Apalagi harga-harga terus naik dan PHK terjadi di mana-mana. Sebaliknya, kalau tidak naik maka rekeningnya akan tetap seperti sekarang tetapi tak ada peluang perbaikan pelayanan PDAM. Pipa-pipanya yang bocor tetap bocor, debit olahannya yang kecil tetap kecil dan tak mungkin ditingkatkan, juga tidak bisa mencari sumber air baru atau membangun instalasi baru sebagai penambah suplai air dan perluasan daerah layanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi PDAM, kalau tarifnya tidak naik maka kualitas layanannya tetap seperti sekarang, bahkan bisa lebih buruk karena harga zat kimia, pipa dan aksesorisnya sudah naik dan tak punya cukup dana untuk merehabilitasi sistemnya. Ongkos operasi-rawatnya pun kian mahal, tak setara dengan pendapatannya. PDAM pun tak mampu meluaskan daerah servisnya bahkan cakupan layanannya bisa menurun karena debit airnya susut disertai peningkatan kebocoran pipa-pipa tua. Kian besarlah kehilangan airnya seiring dengan penurunan kualitasnya, seperti makin keruh, bercacing, berbakteri, berlanyau (slime), dan berisi bermacam-macam pencemar dari limbah domestik dan pabrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kalau naik tarifnya ada kemungkinan PDAM dapat mereparasi kualitas layanannya. Dapat mengganti pipa-pipanya yang bocor, membuat unit pengolah baru, merehabilitasi unit pengolah lama, mampu membeli zat kimia (reagen), mampu mengganti peralatan mekanikal dan bahkan mampu meluaskan area servisnya. Juga mampu meningkatkan kualitas pegawainya (SDM). Dan yang pasti, tak perlu minta bantuan perusahaan air swasta (asing) untuk menangani PDAM. Dari hulu sampai hilir, dari direksi sampai klinsi (cleaning service) diemban oleh orang Indonesia sehingga privatisasi bisa dicegah sekaligus menyelamatkan pelanggan dari ancaman tarif yang terlampau tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah naik tarifnya, selanjutnya ialah pengawasan seksama atau melekat oleh DPRD dan Badan Pengawas (BP). BP PDAM pun harus betul-betul tinggi kompetensinya agar tak sekadar ada tetapi tiada. Adanya sama dengan tiadanya. Pengawasan pun bisa dilakukan oleh pelanggan dengan cara membentuk paguyuban atau asosiasi atau oleh LSM yang concern pada kesehatan masyarakat, sanitasi dan air bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Layak Naik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana, sejak dulu sampai sekarang, resistensi atas kenaikan tarif selalu ada. Tak hanya soal air, tapi juga soal listrik, gas, angkot, bis, kereta api, dll. Bagaimana dengan PDAM? Opsi mana yang mesti diambil? Untuk saat ini sebaiknya buah simalakama itu jangan dimakan! Artinya, pelanggan diminta mau mengerti dulu dan rela menjadi “ibu” seperti kisah di atas. Pelanggan berkorban demi pelanggan, demi perbaikan mutu pada masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipahami bersama, tarif adalah komponen terawan dalam interaksi PDAM-pelanggan. Karena kondisinya mendesak, maka keputusan naik tarif harus segera diberlakukan justru demi peningkatan kualitas layanan. Apalagi kalau PDAM telah lama tidak menaikkan tarifnya dan bahkan tarifnya di bawah tarif rerata PDAM lain. Bagaimanapun, hakikatnya PDAM adalah milik pelanggan, seperti halnya air itu milik rakyat. Menolong PDAM sama dengan menolong pelanggan, menolong diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama DPRD pun harus betul-betul mewakili rakyat dan mampu mengevaluasi kondisi sosial ekonomi mayoritas rakyat, sekaligus memahami kondisi PDAM yang berkaitan dengan ongkos operasi-rawat instalasinya, gaji karyawannya, sumbangannya untuk APBD dan biaya pengembangan PDAM. Jangan sampai DPRD takut dan khawatir dianggap tidak aspiratif karena setuju pada kenaikan tarif. Proyeksi jangka pendek memang terasa merugikan pelanggan tetapi dalam jangka panjang, dengan janji perbaikan oleh PDAM, dengan berbenah di instalasi, transmisi dan distribusinya boleh jadi menguntungkan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya, tarif harus menguntungkan kedua belah pihak. Dalam hal ini DPRD wajib mengakomodasi keduanya. Pelanggan harus dibela, PDAM pun harus dibela. Membela PDAM pun sebetulnya membela kepentingan rakyat. Kalau PDAM tak mampu lagi beroperasi, yang rugi tentu rakyat (pelanggan) juga. Tak ada air berarti tak bisa mencuci, tidak mandi dan tak ada aktivitas bebersih. MDG 2015 pun, yaitu dasawarsa air bersih mondial periode dua, takkan mungkin tercapai, malah sanitasi mayoritas rakyat kian buruk. Yang menderita dan kena wabah pemula (penyakit menular lewat air) lagi-lagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelanggan Peduli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan adalah raja. Pada saat yang sama pelanggan pun harus “mempresidenkan” PDAM. Mau memahami beratnya tugas “presiden” (PDAM) yang mesti melayani “rakyatnya” (pelanggan). Semua “rakyatnya”, baik yang dekat instalasi maupun yang jauh dari instalasi, minta dilayani dengan maksimal. Ini sulit kalau tidak didukung oleh topografi kota. Tetapi permintaan itu wajar-wajar saja sebab “rakyat” sudah membayar rekeningnya. Jika pelanggan sudah akomodatif atas tarif, maka wajib bagi PDAM untuk memuaskan pelanggannya. Semua pelanggan, baik yang tinggal di daerah rendah maupun di daerah tinggi, harus dipuaskan. Inilah tantangan besar bagi PDAM dalam mendesain sistem distribusi agar tekanan dan debitnya setimbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kerumitan operasi-rawatnya, terutama pengaturan air agar adil di sistem distribusinya, kenaikan tarif sejatinya wujud kepedulian PDAM dalam meningkatkan mutu layanannya. Sebaliknya, bisakah pelanggan peduli? Salah satu bentuk kepedulian adalah menyetujui kenaikan tarif dalam batas-batas kewajaran yang dibandingkan dengan biaya produksinya. Jika tidak, bisa saja PDAM benar-benar bangkrut. Dari mana nanti pelanggan mendapatkan air? Tidakkah wajar PDAM menaikkan tarifnya justru dalam kondisi ekonomi seperti ini? Cara ini lebih baik daripada berutang ke bank atau lembaga donor dunia yang membebani negara. Sekarang saja cicilan pokok dan bunga utangnya sudah lebih besar daripada dana pinjaman yang mengucur dalam setahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat instrumen kenaikan tarif itu diharapkan PDAM mampu full cost recovery, mampu balik modal. Injeksi dana segar berupa tarif yang layak bagi kedua belah pihak hendaklah bermuara pada keadilan distribusi air plus membasmi dan mencegah sambungan liar dan bebas KKN. Juga mereduksi kehilangan air teknis dan administratif dan mengeksplorasi sumber air baru atau memodifikasi instalasinya agar mampu menangani pencemar nonkonvensional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, aturlah tarifnya agar tak semahal harga amik (air minum kemasan) dan amiku (air minum kemasan ulang atau isi ulang) yang memang murni bisnis tanpa spirit sosial, murni profit oriented. Di sinilah kecerdasan sosial (social intelligence) insan-insan PDAM diuji setelah kenaikan tarifnya, apakah peka pada harapan pelanggan dengan cara serius mereparasi kinerjanya. Janji, sekecil apapun, tetaplah utang yang harus dilunasi.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/14/0902.htm"&gt;Yang di koran PR.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-116079212361429964?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/116079212361429964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=116079212361429964&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/116079212361429964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/116079212361429964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/10/tarif-pdam-layak-naik.html' title='Tarif PDAM Layak Naik'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-116027742333458540</id><published>2006-10-07T20:13:00.000-07:00</published><updated>2006-10-07T20:17:03.346-07:00</updated><title type='text'>Roughing FILTER</title><content type='html'>Dari ratusan instalasi pengolah(an) air minum (IPAM) di Indonesia, tidak banyak yang menerapkan unit Roughing Filter. Kebanyakan PDAM membuat unit prasedimentasi (prased) atau semacam kolam penampung air baku sebelum airnya dialirkan ke unit pengolah (complete treatment). Ini kalau airnya dari sungai. Yang sumber airnya dari danau atau waduk biasanya tidak perlu unit praolah karena keduanya sudah berfungsi sebagai prased alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi operasi-rawatnya, Roughing Filter atau Filter Kasar, selanjutnya disingkat FK, lebih memakan waktu daripada prased maupun kolam penampung. Tetapi dari sisi kualitas olahannya, FK menghasilkan air yang lebih jernih per debit yang sama. Apalagi kalau dilanjutkan dengan unit filter pasir lambat atau fipal (slow sand filter), akan jauh lebih bagus lagi kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas filter adalah medianya. Disusun oleh bebatuan (kerikil, koral), filter memiliki ruang antarbutir (porositas) yang fungsinya sebagai ruang sedimentasi. Ada ribuan ruang sedimentasi di dalam FK dan ini bergantung pada dimensinya. Selain sedimentasi, terjadi juga fenomena filtrasi dan biomekanisme yang mampu menyisihkan bakteri seperti pada fipal. Bedanya, dalam fipal, penyisihan bakteri dimonopoli oleh lapisan kotor (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dirty layer&lt;/span&gt;) yang disebut &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;schmutzdecke&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Spesifikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan arah alirannya, FK bisa dibagi menjadi dua, yaitu aliran horisontal dan aliran vertikal. FK Horisontal atau FKH lebih populer dibandingkan dengan FK Vertikal, FKV. Dalam FKH, kapasitas penampung lumpurnya lebih besar daripada FKV karena medianya lebih besar dan unitnya lebih panjang. Medianya bergradasi, besar di bagian hulu (inlet) dan mengecil ke arah hilir (outlet). Ada juga yang lain, yaitu besar di bagian hulu lalu mengecil di tengah-tengah kemudian membesar lagi ke arah hilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi dan gradasi media itu bisa begitu kontras. Misalnya, di ruang pertama, yaitu ruang terdekat dengan inlet, medianya homogen berdiameter 3,5 cm. Di ruang berikutnya mengecil menjadi 3,0 cm, lalu 2,0 cm, dan terakhir bisa menjadi hanya 0,5 cm. Partikel terbesar diharapkan tersisih di hulunya, yang lebih kecil di ruang selanjutnya. Dengan kata lain, kalau dilengkapi fasilitas cuci-balik (backwashing) maka kecepatan ke atas (upflow) air di ruang hulu harus lebih besar daripada di ruang hilir. Memang tak perlu terjadi ekspansi di sini. Gradasi kecepatannya itu untuk melepaskan lumpur yang terperangkap di ruang antarbutirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada FKH, pembatas antarruang bisa menggunakan sekat dari kawat, kayu, atau material inert lainnya. Tanpa sekat pun boleh-boleh saja asalkan bisa mengatur letak kerikilnya agar tidak bercampur menjadi sangat heterogen dalam satu ruang. Demi keamanan, bagian atas FKH bisa ditutup dengan pelapis berbahan fiberglas, pelat, atau dari tanah lempung agar air kotor di luar tidak masuk ke dalam filter. Penutup ini menghalangi sinar matahari sehingga mencegah perbiakan algae. Agar kian aman, ambangnya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;freeboard&lt;/span&gt;) ditinggikan dan lengkapi dengan pipa peluap (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;overflow&lt;/span&gt;). Bahan dinding bisa dari beton bisa juga dari kayu yang tahan air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan FKV? Unit vertikal bisa upflow (aliran ke atas), bisa juga downflow (aliran ke bawah). Pada unit upflow, lapisan terbawahnya berdiameter terbesar dan mengecil ke atas. Tebal medianya bervariasi antara 50 – 75 cm dengan tinggi totalnya 2 m. Diameter terbawah sekitar 15 – 20 mm, yang di atasnya 10 mm, dan yang terkecil di bagian atas 5 mm. Kecepatan filtrasinya mencapai 20 m/jam, jauh di atas FKH yang besarnya antara 0,5 – 4 m/jam atau (0,3 – 1,0 m/jam, ini dianggap optimal). Desainnya serupa dengan flokulator media berbutir (gravel bed flocculator) dan bahkan bisa dijadikan pengganti unit flokulasi dan sedimentasi dalam instalasi filter pasir cepat (fipat). Hanya saja, perawatannya lebih berat dan memakan waktu. Pembuatannya pun relatif lebih sulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara membersihkannya? Pembersihan media dilakukan dengan menggelontorkan air-cuci (berasal dari air filtrat) atau dengan membongkar medianya lalu dibersihkan kemudian dipasang lagi. Pada FKV lebih sulit dilakukan dan boros air. Tenggang waktu pembersihannya, biasa disebut umur filter atau waktu-hidup (lifetime), bergantung pada volumenya. Umumnya berumur antara 2 - 5 tahun. Tetapi tetap saja sangat bergantung pada tingkat kekeruhan air bakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, artikel ini dilengkapi dengan sketsanya. Pada gambar terlampir diperlihatkan FKH dengan rerata panjang ruang 2 m dan tinggi 1 m. Teoretisnya, panjang filter antara 5 - 10 m dengan rasio panjang : lebar = 6 : 1. Gradasi media mulai dari 2 cm lalu mengecil menjadi 0,3 cm. FKH ini dipasang dekat sungai. Lewat pipa yang diberi skrin jeruji, air sungai dialirkan secara gravitasi kemudian difilter oleh medianya. Pada FKV, medianya diawali oleh diameter 2 cm, terus mengecil sampai 0,5 cm. Tentu saja boleh menggunakan diameter lain karena karakter kekeruhan sungainya berbeda-beda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jenis filter lainnya, kecepatan filtrasi memegang peran penting pada kinerja FK. Dalam rentang nilai 0,3 sampai 1,0 m/jam, FKH bisa bekerja optimal dan masih dalam kelayakan dari sisi kualitas dan operasi-rawatnya. Namun yang paling umum diterapkan adalah kecepatan 0,5 m/jam untuk kekeruhan rendah, yaitu antara 15 – 50 NTU dan 0,3 m/jam untuk yang kekeruhannya tinggi, mencapai 150 NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Dengan kecepatan filtrasi 0,5 m/jam dihasilkan air antara 85 – 850 m3/hari, dan ini bergantung pada besar-kecilnya filter. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kualitas filtratnya? Meskipun sebagai unit praolah, kemampuannya menghilangkan bakteri patogen ternyata cukup tinggi, antara 60 - 70%. Kemampuannya menghilangkan kekeruhan juga bagus, yaitu 70 - 80%. Hanya saja, nilai ini akan bervariasi dari satu filter ke filter lainnya. Keutamaan lainnya, dapat dioperasikan dan dirawat oleh pekerja dengan tingkat pendidikan rendah. Lulus SMP pun, asalkan dilatih dulu, akan mampu bertugas. Mau mencoba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-116027742333458540?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/116027742333458540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=116027742333458540&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/116027742333458540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/116027742333458540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/10/roughing-filter.html' title='Roughing FILTER'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-115778098476857653</id><published>2006-09-08T22:44:00.000-07:00</published><updated>2012-01-05T02:17:34.528-08:00</updated><title type='text'>Pulau Tenggelam?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;big&gt;Pulau Tenggelam, Mungkinkah?&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah kematian gugusan pulau bisa terjadi karena pemanasan global? Artikel berikut ini sebagai bahan diskusi dan urun rembug atas artikel yang dimuat PR, Sabtu (26/8). Ditulis oleh Dr. M. Darussalam, tulisan berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pemanasan Global dan Kematian Gugusan Pulau&lt;/span&gt; perlu ditambah dengan informasi berikut ini, terutama menyangkut probabilitas kekaraman pulau yang memang kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dimungkiri, kenaikan kosentrasi gas CO2 di muka Bumi menjadi salah satu sebab kenaikan temperatur muka Bumi. Bersama dengan gas metana yang ke luar deras dari rawa-rawa, sawah yang di panen, dan juga dari tangki septik di setiap rumah (ini justru jarang dibahas dalam seminar lingkungan), gas CO2 dimasukkan ke dalam gas rumah kaca (greenhouse gas). Industri otomotif yang demikian masif, terutama kendaraan roda dua, kian memperbesar kosentrasinya. Tambah runyam lagi karena terjadi pembakaran atau kebakaran hutan, seperti di Riau dan Kalimantan. Semua itu berdampak pada temperatur muka bumi. Dekade terpanas terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an. Adapun tahun terpanas satu dekade terakhir ini ialah tahun 1998, 2001, dan 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ada pertanyaan yang belum juga terjawab secara meyakinkan dan menjadi polemik di antara pakar. Andaikata temperatur muka bumi terus naik, mungkinkah dapat mencairkan es di kutub Utara dan Selatan? Apa yang akan terjadi pada manusia ketika temperatur itu terus naik? Masih hidupkah manusia atau sudah mati sebelum es di kutub mencair semua? Lalu, apakah es di kedua kutub itu bisa mencair ataukah hanya di salah satu kutub saja? Mungkinkah terjadi anomali, yaitu es di kutub makin luas areanya dan muka air laut justru turun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoretis, sudah diyakini bahwa kenaikan muka laut mampu menyempitkan luasan pulau dan mengurangi garis pantai. Bahkan diduga pulau kecil alias nusa-nusa bakal tenggelam. Di pulau besar, intrusi atau penyusupan air laut makin parah sehingga sumur pun menjadi asin, lalu memperluas efek krisis air yang sudah parah ini. Reduksi luasan pulau menimbulkan masalah kependudukan dan gangguan kesehatan, malah memicu gelombang panas yang jauh lebih ganas dan luas paparannya, seperti yang melanda kawasan Amerika- Eropa. Pola hujan dan salju pun ikut berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab? Tentu saja semua orang. Namun, jika dikaitkan dengan CO2, maka yang paling bertanggung jawab adalah negara industri karena merekalah yang terbanyak mengemisi CO2 ke atmosfer. Ini sekadar contoh. Emisi orang Amerika Serikat lima kali lebih besar daripada orang Meksiko. Bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Data lain lebih tandas lagi. Menurut sebuah sumber, 20% manusia Bumi ini tinggal di negara maju tetapi justru kontribusinya 63% dari total emisi. Memang betul, jika dihitung berdasarkan negaranya, maka Cinalah pengemisi terbesar lantaran jumlah penduduknya memang terbanyak, walaupun secara individu emisi tujuh orang Cina itu setara dengan satu orang Amerika Serikat. Tujuh orang setara dengan satu orang!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Waterworld&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betulkah pulau-pulau bisa tenggelam karena pemanasan global? Memang sudah ada orang yang mengalami banjir Nabi Nuh, yaitu Kevin Kostner. Dia, dan juga teman-temannya, sampai bertarung habis-habisan memperebutkan air tawar dan berlomba mencari daratan yang belum tenggelam. Setelah kehilangan rumah, tanah dan air, mereka pun lantas menggelandang di atas kapal layar dan berperang. Semuanya gara-gara pencairan es di kutub Bumi dan menenggelamkan pulau, bahkan benua. Hanya saja, itu terjadi di dalam film yang bertajuk waterworld.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, akankah Dunia Air itu bisa betul-betul terjadi? Ada kajian ilmiah yang disebut Teori Lebur atau Melting Theory. Intinya adalah kontradiksi yang dapat terjadi jika global warming makin parah. Ada dua hal penting yang bisa terjadi, yaitu perubahan tinggi muka air laut karena daratan bergerak relatif terhadap lautan (isostatik) dan perubahan yang terjadi karena volume air laut bertambah akibat pencairan es dan salju (eustatik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, mencairkah es di kedua kutub Bumi itu? Para pakar terbelah pendapatnya pada soal ini. Sekelompok ahli yakin bahwa es di kedua kutub itu akan mencair jika pemanasan global tak berkurang. Es yang terus berubah menjadi air lalu masuk ke laut sehingga muka air laut meninggi yang lantas “memakan” pantai, mengurangi garis pantai dan menenggelamkan nusa-nusa. Namun ada pendapat lain. Kelompok ini justru yakin bahwa ada beda karakter atas kedua kutub Bumi. Katanya, kutub Selatan (Antartika) adalah dataran yang ditutupi es. Sebaliknya kutub Utara (Artik) adalah air laut yang membeku membentuk pulau es dan gunung-gunung es. Dengan kata lain, kutub Utara, kecuali Greenland, adalah es yang terapung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata temperatur global betul-betul naik ekstrem, apa yang akan terjadi pada es di kedua kutub itu? Jika pulau apung di Artik mencair, maka takkan banyak berpengaruh pada tinggi muka air laut. Ini mirip dengan gelas yang berisi air dan ada sepotong es yang menyembul di permukaannya. Meskipun es itu habis mencair, sesuai dengan hukum Archimedes, maka airnya takkan tumpah. Jadi, peleburan es di Artik hanya akan mengubah wujudnya dari padat mencari cair sehingga tak berpengaruh pada kenaikan muka air laut global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal berseberangan bisa terjadi di Antartika. Gunung es di kutub dapat mempengaruhi muka air laut karena volumenya cukup besar untuk menambah volume air laut global. Hanya saja, karakter lingkungan di Antartika sangat-sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga esnya tak mudah mencair. Pemanasan global tak mampu mencairkan esnya. Andaikata pemanasan global dapat mencairkan es di sana maka diduga semua manusia sudah mati. Semuanya tewas akibat heat stroke, fenomena yang sering menimpa jamaah haji dan negara di Eropa ketika musim panas, sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, hal muskil pun dapat saja terjadi dan kontradiktif. Pemanasan global justru menyebabkan air laut di kutub Selatan menguap dan terus menguap. Hembusan angin lantas membawanya ke daratan kutub dan akhirnya jatuh membeku di sana. Jika kejadian ini berlangsung menerus maka air laut pindah ke darat lalu menjadi es. Maka, yang terjadi justru penurunan muka air laut, bukan kenaikan! Artinya, pantai kita meluas dan muncul nusa-nusa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaklah bahwa pemanasan global, karamnya pulau dan banjir sejagat tak mudah dijelaskan karena belum pernah terjadi, belum ada pengalaman. Yang ada hanyalah film-nya Kevin Kostner yang juga banyak menuai kontroversi dan dianggap tak ilmiah. Tapi itulah yang terjadi, dunia teoretis berbakuhantam dengan kreativitas sineas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, apapun teorinya dan bagaimanapun cara orang menjelaskannya, yang pasti pemanasan global akan mempengaruhi aktivitas kita. Polusi CO2 yang kian parah, andaipun kecil dampaknya pada kenaikan muka air laut, tetapi besar pengaruhnya pada paru-paru kita, pada kenyamanan kerja kita, pada produktivitas kita.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-115778098476857653?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/115778098476857653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=115778098476857653&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115778098476857653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115778098476857653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/09/pulau-tenggelam-mungkinkah.html' title='Pulau Tenggelam?'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-115664703813192574</id><published>2006-08-26T19:48:00.000-07:00</published><updated>2006-08-26T19:50:38.136-07:00</updated><title type='text'>Mengulas Kinerja PDAM</title><content type='html'>Tak diduga dan tidak masuk akal. Begitu ungkapan warga setelah mengetahui betapa besar tunggakan pelanggan kepada PDAM Kota Bandung. Jumlahnya mencapai Rp 40 milyar rupiah. Dalam kasus-kasus tindak pidana seperti sambungan gelap yang melibatkan pegawai PDAM, sudah pula dilakukan pemecatan. Penunggak rekening dan sambungan gelap itu pun sudah diputus sehingga dari 143.000-an pelanggannya, sekarang tersisa 139.000-an unit. Ada 4.000-an pelanggan yang diputus, demikian kata Dirut PDAM. Dalam diskusi Sabtu (12/8) yang dikemas oleh radio Mara Bandung itu terungkap pula bahwa banyak sekali terjadi kehilangan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan air (unaccounted for water) tersebut tak hanya terjadi di PDAM Kota Bandung tapi juga di semua PDAM. Kisaran angkanya antara 20% dan 70%, dengan rerata 45%. Angka ini setara dengan 82% air yang terjual, tetapi tidak selalu sama dengan jumlah pendapatan yang diterima PDAM akibat berbagai manipulasi yang terjadi. Ujud kehilangan air itu, yaitu beda antara volume air di meter induk dan volume total di meter pelanggan, bisa karena bocor fisik seperti pipa pecah, rembesan di reservoir, dan kerusakan peralatan di jaringan distribusi, bisa juga karena bocor nonfisik seperti ketakakuratan meter airnya atau karena salah baca dan salah administrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mengendalikan kehilangan air tersebut, termasuk mempertahankan kualitas air olahannya, sejumlah tindakan bisa dilakukan oleh PDAM. Di antaranya adalah mengelola daerah distribusinya dengan cara menyeimbangkan tekanan di sekujur sistemnya, baik yang terdekat dengan instalasi maupun yang terjauh, lewat zoning system. Tanggap darurat dalam perbaikan pipa dan responsif atas laporan masyarakat, juga menjadwalkan secara rutin perawatan dan kendali pipa. Hal-hal tersebut dan sejumlah cara lainnya lagi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yang disebut reformasi rekayasa dan reformasi kekaryaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kinerja instalasinya, sampai saat ini teknologi yang diterapkan PDAM untuk mengolah air masih menggunakan cara konvensional, belum menggunakan teknologi membran. Fokusnya pun sebatas kualitas fisika dan bakteriologi, tidak banyak memperhatikan aspek kimianya padahal kualitas air bakunya menurun dan potensial tercemari limbah pertanian dan rumah tangga, selain limbah industri. Andaipun ada yang diolah, itu pun sekadar reduksi besi dan mangan. Bahkan bisa terjadi, meskipun kadar besi dan mangannya melebihi baku mutu air minum, tetap saja PDAM tidak menyediakan unit aerasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lainnya adalah pencemar berupa logam berat dan pestisida yang kerapkali menimbulkan kekeliruan dalam interpretasinya. Apalagi sering diperoleh nilai pencemar organik dalam ujud lump parameter BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau COD (Chemical Oxygen Demand) yang sangat kecil, namun sebenarnya ada zat yang tak dideteksi oleh parameter tersebut tapi berbahaya, yaitu zat xenobiotik. Begitu pun sedimen sungainya jarang dianalisis padahal konsentrasi polutannya bisa ratusan kali lebih besar daripada di dalam air. Lekatan pencemar di sedimen sungai itu bisa lepas lagi (flushing) ketika hujan sehingga konsentrasinya di dalam air membesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya adalah reformasi kekaryaan yang menyangkut profesionalisme karyawan PDAM. Tak dimungkiri, mulai tingkat terbawah sampai manajemen teratas ada saja masalahnya. Di tingkat atas, yakni di level direksi, campur tangan kepala daerah masih terlampau tinggi sehingga selalu saja jajaran direksinya adalah orang-orang dekat kepala daerah. Mereka umumnya berasal dari (mantan) pejabat yang berkarir di sejumlah dinas. Tidak salah memang, tapi berpotensi memperburuk kondisi PDAM sebab dewan direksinya tidak didasarkan atas asas kapabilitas dan pengalaman dalam memimpin perusahaan air. Tidak mengherankan pula jika akhirnya muncul intrik dan menimbulkan ketegangan di tingkat elitenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, diusulkan agar formula pemilihan dan pengangkatan dewan direksi diubah agar orang yang mengemban amanat itu betul-betul orang yang familiar di sektor air bersih dan paham apa tugasnya. Pemilihan itu pun haruslah didekati dengan formula profesional dan bersaing bebas tidak main uang, bebas money politics. Selain bervisi marketing, direksi juga wajib memahami sistem pengolahan air dan teruji integritasnya serta bebas moral hazard. Selain reformasi internal tersebut, ada juga cara lain untuk meningkatkan profesionalitas sektor air bersih ini, yaitu penswastaan (privatisasi). Tetapi sejak awal patut dicatat, upaya ini tak sekadar kemitraan atau kerja sama seperti yang diterapkan PAM Jaya Jakarta dengan mitra asingnya, juga bukan seperti yang terjadi di Pulau Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaklah bahwa semua sisi manajemen PDAM mesti dievaluasi, mulai dari aspek rekayasanya sampai ke integritas karyawannya. Lantas, satu hal yang paling rawan adalah soal kehilangan air, aspek klasik yang menghantui PDAM. Ditambah lagi dengan rendahnya kinerja di jajaran direksi dan di level stafnya, termasuk rendahnya tarif air dan sering terjadi tarik ulur dengan DPRD setempat. Akibatnya bisa diduga, hingga kini PDAM tak bisa berkembang optimal, bahkan ada yang turun grafiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa PDAM perlu melibatkan “swasta”. Kata swasta ini diberi tanda kutip, artinya perlu syarat ketat. Meskipun PDAM Kota Bandung menolak upaya penswastaan seperti terungkap dalam diskusi di radio tersebut, upaya ini sebetulnya bisa meringankan beban finansial dalam investasinya. Lantaran rendah tarifnya, PDAM sudah tak mampu lagi memodifikasi dan menginovasi unit pengolahnya seperti tuntutan reformasi rekayasa dan tipis kemungkinannya mencapai cita-cita paradigma sehat (Jawa Barat Sehat) termasuk sulit mencapai Millenium Development Goals, 2015 (Dasawarsa Air Bersih Dunia Tahap II). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, penswastaan yang dimaksud di sini adalah upaya antisipasi mutu air demi kesehatan masyarakat sekaligus memutus tali monopoli agar terjadi persaingan sehat, saling untung antara produsen dan konsumen. Syaratnya sangat tegas: privatisasi itu harus berjalan pada rel pasal sosioekologis, pasal 33 UUD 1945. Apabila tidak taat asas, maka peninjauan ulang bisa saja dilakukan. Dengan cara demikian diharapkan kinerja PDAM bisa naik ke titik optimalnya. *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-115664703813192574?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/115664703813192574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=115664703813192574&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115664703813192574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115664703813192574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/08/mengulas-kinerja-pdam.html' title='Mengulas Kinerja PDAM'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-115664629572060186</id><published>2006-08-26T19:34:00.000-07:00</published><updated>2006-08-26T19:38:16.136-07:00</updated><title type='text'>Waspadai dan Cegah Muntaber</title><content type='html'>Muntaber mengganas di Karawang, Kec. Telukjambe, Desa Karangligar, Dusun Pangasinan. Sudah 84 orang yang menderita dan telah merenggut nyawa anak-anak. Di daerah lain, yaitu di Sukabumi Kec. Cisolok, muntaber menyerang 28 orang, dari anak-anak hingga orang dewasa. Demikian tulis koran PR (16/8). Selama kemarau ini sangat boleh jadi terjadi juga hal serupa di daerah-daerah lain yang krisis air minum. Setiap hari di berbagai media massa selalu saja ada berita kekeringan yang umumnya terjadi di Pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah Utara ke Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabah yang disebabkan oleh mikroba seperti bakteri E. coli itu terjadi lantaran buruknya sanitasi dan masyarakat terbiasa membuang tinjanya di tanah terbuka, di air sungai, kolam, atau selokan. Seperti biasa, kemarau adalah saat-saat sulit air, khususnya air untuk minum dan memasak. Debit air sumur menurun bahkan sampai kering, mata air berkurang sehingga tak mampu lagi memenuhi seluruh penduduk setempat. Pada saat yang sama air sungai pun surut dan bahkan menghitam berbau busuk sehingga tak layak lagi dijadikan air pencuci pring, sendok, dll apalagi digunakan sebagai sumber air minum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penyakit perut (gastro enteritis), muntaber selalu ditransmisikan lewat feses (tinja) dan rute penularannya disebut rute amul (anus-mulut), yakni dari tinja penderita lalu lewat makanan dan minuman (air minum) atau air untuk menyikat gigi, masuk ke mulut lalu ke perut. Selain itu, penularannya bisa juga melalui jari tangan penderita lalu langsung ke orang sehat. Penularan seperti ini biasanya lewat makanan-minuman yang sanitasinya buruk atau bahkan sama sekali tidak mengindahkan sanitasi akibat kurang ilmu dan ingin untung besar dalam berdagang. Tak jarang air yang digunakan tidak memenuhi syarat baku mutu air minum dan tanpa dimasak terlebih dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran kondisi sosial ekonomi masyarakat banyak yang demikian, maka ini menjadi tugas besar Dinas Kesehatan untuk mengintensifkan program sanitasi dan memonitoring proses pembuatan makanan-minuman. Jika tidak bisa karena kesulitan dana atau kekurangan tenaga sanitarian, bisa saja dilakukan pengawasan di sekolah-sekolah, terutama di SD. Memang tidak boleh mengambil generalisasi di sini, tetapi ada banyak kasus bahwa pedagang makanan minuman kurang peduli pada aspek sanitasi. Tak sedikit yang menggelar dagangannya terbuka begitu saja sehingga dikerubuti lalat dan debu. Mangkok dan gelas pun dicuci hanya dengan air seember kecil dan tak diganti-ganti selama sehari penuh lantaran sulit air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Upaya preventif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain upaya kuratif yang menjadi tugas Puskemas dan rumah sakit, tindakan preventif hendaklah mulai ditempuh. Malah seharusnya sudah berjalan secara rutin karena penyakit ini selalu saja melonjak kejadiannya pada musim kemarau. Berbagai penyuluhan lewat Puskesmas bisa dilakukan secara terjadwal atau lakukan saja jemput bola, yaitu tenaga sanitarian datang ke rumah penduduk dan memberikan penyuluhan kepada, misalnya, lima kepala keluarga yang berdekatan. Jika ini dilaksanakan, dan biasanya cara ini tepat diterapkan di desa-desa, bukan di kota, maka insidensi muntaber dan penyakit menular lewat air lainnya bisa dicegah atau minimal dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi insidensinya itu, masyarakat harus dipahamkan dulu cara mengolah air secara sederhana agar mati bakteri patogennya. Penyuluhan ini mesti rutin dilaksanakan, seminim apapun anggarannya. Sebab, masalah penyehatan lingkungan dan sanitasi dasar ini sangat menentukan kondisi kesehatan masyarakat pada masa depan. Bagaimana mungkin mencapai Jawa Barat Sehat jika terus saja terjadi muntaber, tifus, apalagi kolera, penyakit yang sangat berbahaya karena penderitanya bisa dehidrasi hanya dalam tempo sejam dua jam, lalu segera meninggal. Apalagi tolokukur mutu kesehatan suatu negara adalah pada aspek sanitasi dasarnya, yaitu pada penyakit menular, dan bukan pada penyakit degeneratif yang banyak diderita orang kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Dinas Kesehatan tak jua mau bergerak karena kehabisan tenaga dan dana, cara sederhana bisa ditempuh seperti membuat poster yang komunikatif, bukan yang banyak berisi istilah asing, penjelasannya tidak menarik dan bertele-tele. Pada dasarnya masyarakat desa di Indonesia, terutama yang di Pulau Jawa, akan dengan mudah diajak dan dipengaruhi untuk turut serta dalam pelatihan hidup saniter jika dipahamkan bahwa kegiatan itu untuk kepentingan dirinya dan tanpa dipungut bayaran, sekecil apapun itu. Karakter sosiologi paternalistik ini terbukti membantu dalam penyebaran dan perluasan pendidikan masyarakat desa dan warga pedalaman dengan melibatkan pengaruh wibawa tetua adat dan tetua desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai upaya preventif karena kasusnya telah meluas, upaya pembasmian bakteri bisa dilaksanakan dengan cara sederhana dan murah, yaitu membubuhkan kaporit dalam air baku untuk keperluan mencuci sayur, beras, piring, sendok, dan air untuk berkumur-kumur sikat gigi. Cara tertua, yaitu pendidihan air selama sepuluh menit sudah pula dipahami masyarakat. Hanya saja, agar lebih efektif, selain dididihkan air baku itu pun diolah dengan cara sederhana menggunakan filter pasir dan biji kelor. Sebelum dialirkan ke filter, air sungai atau air kolam itu diberi tawas dulu lantas airnya dialirkan ke filter dan hasilnya ditampung di ember atau gentong bersih. Air di gentong ini lalu diberi kaporit dan diaduk-aduk. Sejam kemudian air tersebut sudah bisa digunakan untuk mencuci sayur, nasi, dll. Tanpa dididihkan pun air tersebut sudah layak diminum karena kaporitnya mampu membunuh bakteri. Namun demikian, demi upaya preventif, air itu sebaiknya dididihkan lagi selama sepuluh menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena harus keluar uang untuk membuat filter dan membeli zat kimia, cara ini sebaiknya ditempuh secara gotong royong dengan melibatkan lima kepala keluarga yang rumahnya berdekatan. Biaya per umpinya akan lebih murah dan operasi-rawatnya dilakukan secara bergilir, terutama untuk pembersihan filter yang mampat. Keamanan dan kemudahan dalam mencari air baku pun bisa digotong-royongi sekaligus bersilaturahmi. Jika semua penduduk desa menempuh cara ini maka bisa dipastikan kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput akan tercapai tanpa perlu banyak dana dan tanpa keluar banyak tenaga. Malah sanitarian dan pegawai di Dinas Kesehatan atau pemerintah daerah diuntungkan lantaran program penyehatan lingkungan dan sanitasinya berjalan lancar dan berhasil dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata terlambat untuk memulai dan mencoba apa yang belum diterapkan atau apa yang diterapkan secara setengah-setengah dan tidak taat asas. Sampai kapan pun, kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya, begitu ujaran kaum bijak bestari. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-115664629572060186?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/115664629572060186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=115664629572060186&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115664629572060186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115664629572060186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/08/waspadai-dan-cegah-muntaber.html' title='Waspadai dan Cegah Muntaber'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-115266837668265039</id><published>2006-07-11T18:37:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T18:39:36.686-07:00</updated><title type='text'>Indikator Kinerja PDAM</title><content type='html'>Tulisan ini pernah dimuat di website milik &lt;a href="http://www.marabandung.net"&gt;radio Mara Bandung&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut berita koran Kompas, 5 Juli 2006 ini, PDAM Kota Bandung akan menaikkan tarif airnya lagi. Bagaimana tanggapan DPRD? Adakah yang menentang atau oke-oke saja? PDAM ini pernah juga membuat siasat lain, yakni dengan cara mengubah golongan pelanggannya sehingga rekeningnya naik walaupun volume air yang digunakannya tetap. Dampaknya, banyak juga yang melayangkan surat protes ke media massa cetak dan elektronik khususnya radio. Malah sejumlah diskusi digelar oleh LSM yang peduli konsumen dan anti privatisasi air. Dalam setiap diskusi itu melesat pendapat bahwa pelanggan tak keberatan tarifnya naik asalkan kualitas layanannya juga naik. Jangan tarifnya saja yang naik tapi makin buruk layanannya. Jangankan makin buruk, tetap saja kinerjanya tidak boleh. Harus naik kinerjanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merujuk pada anggapan dan usulan tersebut perlu dicarikan parameter apa saja yang bisa dijadikan tolokukur kinerja PDAM. Parameter ini bisa dikupas dalam lingkup sempit saja tapi bisa juga luas berkembang jika hendak dirinci satu per satu. Berikut ini dituliskan apa dan bagaimana caranya menilai kinerja PDAM secara garis besar. Pisau bedah yang digunakan adalah piramid PDAM yang terdiri atas: P = Pegawai, D = Desain, A = Area servis, dan M = Manajemen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Piramid PDAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;The man behind the gun. The right people on the right place. Ungkapan tersebut kerapkali terdengar ketika membicarakan perusahaan atau tata kerja di kantor. Inilah pentingnya nilai P atau Pegawai pada perbaikan kinerja PDAM. Ia terkait dengan keterampilan, keterlatihan, dan keterdidikan. Sebagai perusahaan air, pelanggan bisa menilainya dari sudut P khususnya keterlibatan sarjana Teknik Lingkungan di tubuh PDAM. Adakah sarjana ini di sana? Jika ada, bagaimana kualitasnya, apakah mampu menangani sisi teknis mulai dari sumber air, transmisi, instalasi, distribusi, evaluasi, rehabilitasi, perluasan jaringan, serta supervisor dan evaluator jasa konsultan? Secara sederhana bisa disebutkan, setiap 4.000 unit pelanggan dibutuhkan satu sarjana Teknik Lingkungan dengan kualifikasi seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun faktanya, dari 318 PDAM di Indonesia yang sudah menjadi anggota Perpamsi belum semuanya memiliki sarjana yang keahliannya di bidang air. Kalaupun ada, masih belum memenuhi kualifikasi seperti disebutkan di atas. Tentu saja ini masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Itu sebabnya silakan pelanggan “menyelidiki” apakah PDAM-nya sudah berkualifikasi demikian. Setelah itu barulah dicek sarjana pendukung lainnya seperti ekonomi, Teknik Sipil, manajemen dan sejumlah ahli madya. Selanjutnya ialah lulusan SMU atau SMK di bidangnya. Pegawai di bagian klining servis (klinser) pun boleh jadi suatu saat nanti adalah lulusan SMU/SMK. Meskipun demikian, pegawai terbawah dalam struktur organisasi ini harus tetap diizinkan berkembang ke jenjang yang lebih tinggi jika mereka sekolah lagi dan lulus. Jadi, adanya kejelasan jenjang karir pegawai juga menjadi tolokukur kinerja PDAM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator atau pilar kedua adalah D, Desain. Baik buruknya layanan bergantung pada desain, baik itu instalasi, transmisi dan distribusi. Dalam setiap desain baru maupun pengembangan, juga pada evaluasi kepuasan pelanggan lewat kuesioner, peran sarjana Teknik Lingkungan demikian besar. Bagaimanapun, penilaian atas desain ini langsung menukik pada kualitas air yang sangat mempengaruhi opini pelanggan terhadap PDAM. Mayoritas protes pelanggan berkaitan dengan kesalahan, keteledoran, dan ketakakuratan desain instalasi, posisi reservoir, dan distribusi. Desain yang tepat akan menurunkan pencemar ke tingkat yang disyaratkan peraturan kualitas air minum, yaitu No. 907/Menkes/SK/VII/2002. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal tepat tidaknya desain yang diterapkan PDAM, ini bergantung pada evaluasi kualitas sumber air bakunya. Pelanggan bisa saja mewajibkan PDAM untuk merilis laporan kualitas air bakunya di media massa secara berkala dan ini dinilai oleh tim pemantau yang dipilih pelanggan. Apalagi pada masa sekarang ini kualitas air baku sudah makin buruk lantaran tercemar, baik oleh pestisida dari sawah maupun dari limbah domestik dan pabrik. Yang juga penting dalam desain adalah kapasitas olahnya apakah sesuai dengan dimensi unit pengolah yang dibuatnya. Apakah unit tersebut mampu menangani kualitas air terburuk yang mungkin timbul, misalnya ketika banjir besar atau tercemar berat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah penting adalah indikator kualitas air olahan di reservoir PDAM dan di rumah-rumah pelanggan. Idealnya, di kedua tempat ini kualitas airnya sama bersih. Hanya saja, kebanyakan PDAM belum memenuhi kriteria tersebut lantaran kondisi jaringan distribusinya buruk sehingga air tanah dan air selokan masuk ke dalam pipa lalu ke perut pelanggan. Inilah salah satu sumber ancaman tifus, disentri, diare khususnya pada anak-anak yang menyikat gigi menggunakan air tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah Area Servis. Makin luas area servisnya makin bagus nilainya apalagi jika dikaitkan dengan Millenium Development Goals (MDG). Tak satu pun PDAM mampu melayani 100% areas servisnya dengan berbagai alasan. Jangankan untuk meluaskannya, melayani dengan sempurna palanggannya saja belum mampu. Akibatnya terjadi ketimpangan servis. Ada pelanggan yang 24 jam penuh dipasok airnya, bahkan dengan tekanan yang mencukupi sesuai standar, tapi ada juga yang terpaksa digilir dan hanya mendapatkan air ketika malam hari saja. Ada lagi yang sejak awal berlangganan tak pernah sekalipun air PDAM mengucur dari krannya. Meter airnya sekadar menjadi monumen ketakberdayaan PDAM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting di area servis dan menjadi tugas besar PDAM adalah desain jaringan distribusinya. Bagaimana caranya agar semua pelanggan, baik di daerah tinggi maupun di daerah rendah, baik yang dekat instalasi maupun yang terjauh, harus mendapatkan air sesuai dengan kebutuhan standarnya. Di sinilah kemampuan desain sarjana Teknik Lingkungan diuji. Semasih terjadi masalah klasik di daerah distribusi seperti di atas, belumlah layak mereka diberi label mumpuni. Pelanggan berhak menggugatnya, termasuk menggugat jajaran manajemennya apalagi jika dikaitkan dengan tarifnya yang terus naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen adalah indikator keempat, sebagai pemegang kendali PDAM. Tak hanya masalah kepegawaian, kejelasan karir, dan proses pengolahan yang dianggap penting tapi juga manajemen krisis. Di mana-mana di Indonesia posisi PDAM berada di ujung tanduk dalam arti sewaktu-waktu bisa menghadapi krisis air. Bahkan banyak PDAM yang sumber airnya berasal dari luar wilayahnya, dengan cara membeli. Jika terjadi pengambilalihan oleh pemerintah daerah setempat atas desakan warganya maka PDAM tersebut langsung krisis. Itu sebabnya PDAM ini tak bisa tenang dalam operasinya dan berupaya melakukan manajemen sumber daya air secara optimal. Namun belum banyak yang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen distribusi pun masuk kategori kritis lantaran tak ada PDAM yang bebas dari kebocoran air, baik dalam arti harfiah maupun konotasi. Betapa banyak penyalahgunaan aset dan keuangan PDAM yang melibatkan orang dalam dan konsultan, kontraktor dan suppliernya. Demikian pula dengan manajemen sambungan baru, tes aliran dan kontrol meter air. Kalibrasi meter air juga harus dikelola rutin dan tercatat. Ini sangat penting agar tak ada meter air yang terlewatkan dalam kalibrasi dan sebaliknya ada yang baru saja dikalibrasi tapi dikalibrasi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir adalah manajemen tanggap, yakni mampu menangani setiap masalah dan laporan pelanggan, kapan pun dan di mana pun. Malam hari oke, lokasinya jauh pun tetap wajib diladeni. Manajemen harus mampu memotivasi pegawainya agar tidak ogah-ogahan demi prinsip solutif pada keluhan pelanggan. Begitu pun pengelolaan rekening, tanggal berapa petugas ke pelanggan agar jelas demi efisiensi kerja. Jangan terjadi petugas datang tapi pelanggan tak di rumah atau ketika pelanggan di rumah tapi petugas PDAM tidak datang. Sebaiknya dicarikan jadwal yang tepat bagi kedua belah pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mayoritas indikator di atas sudah mampu dilaksanakan oleh PDAM, bolehlah pelanggan menilainya sebagai PDAM berkinerja tinggi. Begitu pun sebaliknya.* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-115266837668265039?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/115266837668265039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=115266837668265039&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115266837668265039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115266837668265039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/07/indikator-kinerja-pdam.html' title='Indikator Kinerja PDAM'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-115266761864520923</id><published>2006-07-11T18:23:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T18:26:58.660-07:00</updated><title type='text'>Distillasi Sekejap Multitahap</title><content type='html'>Dijamin 100%, sampai saat ini belum ada satu PDAM pun yang memiliki unit Distillasi Sekejap Multitahap (DSM). Dari 318 PDAM yang menjadi anggota Perpamsi, mayoritas air bakunya berasal dari mata air, sumur bor, lalu disusul air sungai. Tak ada yang menyedot air payau apalagi air laut sebagai air bakunya lantaran mahal biaya investasi dan operasi-rawatnya. Entahlah pada masa datang ketika air tawar makin sedikit dan pelanggannya terus bertambah, barangkali PDAM, terutama yang di dekat pesisir, terpaksa beralih ke teknologi desalinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak teknologi desalinasi seperti elektrodialisis, mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi, reverse osmosis dan lain-lain, teknologi DSM termasuk yang berpotensi diterapkan untuk menghasilkan air minum berbahan baku air laut dengan kapasitas besar. DSM berpeluang diterapkan oleh PDAM yang wilayahnya di tepi pantai, air tanahnya payau akibat intrusi dan sulit memperoleh air baku dari kabupaten tetangganya. Ini pun jika PDAM tak hendak menerapkan teknologi membran dengan segala kelebihan dan kekurangannya, semacam reverse osmosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prinsip Kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DSM nyaris sama prinsip kerjanya dengan Distillasi Surya (DS) atau Solar Distillation, yaitu sama-sama membutuhkan kalor untuk evaporasi. Keduanya sama-sama proses penguapan seperti yang biasa terjadi pada pendidihan air untuk minum di rumah tangga Bedanya, kapasitas DS sangat kecil dibandingkan dengan DSM sehingga jika ditujukan untuk suplai penduduk kota, maka DSM-lah solusinya. Sebagai unit penguap, inti prosesnya adalah pendidihan air dan untuk mencapai titik didihnya itu bisa ditempuh dengan dua cara. Yang pertama, air dipanaskan atau diberi kalor sampai tercapai titik didihnya; dan yang kedua, tekanannya dikurangi (flashing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kedua, yaitu pengurangan tekanan itulah yang diterapkan pada unit DSM. Mengikuti hukum alam, reduksi tekanan yang diterapkan pada air mendidih menyebabkan temperatur atau titik didihnya turun. Porsi energi yang dilepaskan karena pengurangan tekanan inilah yang memasok kalor untuk menghasilkan uap. Karena garam-garamnya praktis tak bisa menguap, maka uapnya adalah murni uap air sehingga jika diembunkan akan menghasilkan air tawar, murni H2O atau andaipun ada TDS-nya (total dissolved solid) konsentrasinya tak lebih dari 50 mg/l.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, konsep flashing diterapkan pada Single Flash Evaporator (Penguap atau Distillasi Sekejap Setahap), sebuah unit yang paling sederhana. Pada unit ini ruang penguapnya dianggap bertekanan satu atmosfer (1 bar) dan titik didih air 100 oC (212 oF). Air laut dipanaskan sampai temperatur 120 oC (250 oF), tekanan 2 bar, lalu dijebloskan ke ruang penguap bertekanan 1 bar. Karena titik didih pada tekanan 1 bar adalah 100 oC, maka secara mendadak air melepaskan uap sehingga temperaturnya turun. Uapnya ke atas, masuk ke ruang kondensasi (pengembunan) lalu mencair menjadi air tawar. Pengembunan itu justru dibantu oleh air laut umpan sebagai media pendingin (kondesor) yang otomatis hemat energi sebab dapat mereduksi jumlah kalor yang harus dipasok ke pemanas. Demi mengurangi kebutuhan pasokan kalor pada pemanas, air laut umpan yang akan masuk ke ruang pengembun terlebih dulu dihangatkan oleh air asin panas yang ke luar dari kamar penguap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efisiensi biasanya dinyatakan dalam volume air tawar produksi per satu satuan kalor yang dipasok pada pemanas. Lantaran medium pemanasnya berupa steam (kukus), lazimlah efisiensinya dinyatakan dalam ton air tawar yang dihasilkan per ton kukus yang dikonsumsi. Karena kalor penguapan air laut kira-kira sama dengan kalor pengembunan kukus, maka pada distillasi satu tahap yang sudah dioptimalkan pun nilai efisiensi maksimalnya tetap saja satu. Ini tentu tidak menggembirakan sebab ongkos produksi kukusnya menjadi porsi terbesar dari harga air tawar yang dihasilkan. Bagaimana solusinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kinerja DSM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Solusinya adalah serial unit atau multistage sehingga disebut Multistage Flash Evaporator. Unit ganda berurutan multitahap ini bisa dideretkan menjadi n tahap dan nilainya berkisar antara 15 – 60. Air laut yang sudah dipanaskan dialirkan melewati kamar-kamar penguap (atau tahap-tahap penguapan sekejap). Setiap kamar beroperasi pada tekanan yang lebih rendah daripada kamar di hulunya sehingga temperatur didih airnya juga lebih rendah. Akibatnya, air asin yang keluar dari tahap akhir akan bertemperatur paling rendah sehingga tak membawa banyak energi yang terbuang sia-sia. Juga tak selamanya air laut yang hangat ini dibuang seluruhnya. Ada sebagian yang dicampurkan lagi ke dalam air laut segar umpan proses sehingga terdaur ulang dan energinya yang tersisa masih bisa dimanfaatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan dan temperatur operasi terendah pada tahap akhir DSM ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan volume uap (volume per satuan massa uap membesar jika tekanannya makin rendah) dan kelancaran perpindahan kalor di kondensornya. Rentang umum temperaturnya adalah 37 – 40 oC pada tekanan operasi 0,06 – 0,07 bar. Tekanan tahap-tahap yang beroperasi pada kondisi vakum (temperatur operasinya kurang dari 100 oC) dipertahankan dengan isapan penghampa. Temperatur tertinggi yang bisa diterapkan pada air laut yang keluar dari pemanas biasanya dibatasi pada 120 oC (250 oF) untuk mengendalikan kerak (scaling) kalsium karbonat (CaCO3) dan magnesium hidroksida Mg(OH)2 pada pipa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum efisiensi DSM membesar jika jumlah unitnya (n) makin banyak. Namun efisiensi atau nisbah kerja unit ke-43 sampai unit ke-60 biasanya tak terlalu jauh bedanya. Yang satu bernisbah 10, yang satunya lagi 11. Bedanya hanya satu dan ini pertanda bahwa unitnya sudah jenuh alias capek. Lebih dari 60 kamar akan terus menurun dan makin tidak efisien. Meskipun begitu, DSM adalah desalinator yang kompetitif. Saat ini diperkirakan 65% air desalinasi di seluruh dunia diperoleh dari DSM. Hanya saja, demi efisiensi, perlu ada perbaikan kinerja, misalnya digabung dengan unit reverse osmosis dan pembangkit listrik tenaga uap, baik berbahan bakar batubara, gas, maupun BBM. Bahan bakar dari sampah pun boleh-boleh saja asalkan memang layak diinsinerasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, implementasi pembangkit listrik-DSM-RO (tiga unit digabung) atau menjadi empat unit (insinerator-pembangkit-DSM-RO) perlu mempertimbangkan capital &lt;span style="font-style:italic;"&gt;recovery costs, fuel costs&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;operation-maintenance costs&lt;/span&gt; secara total dengan analisis SWOT (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;strength, weakness, opportunity, threat&lt;/span&gt;) di daerah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, kapan PDAM yang daerah "kekuasaannya" di dekat laut menerapkan DSM?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-115266761864520923?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/115266761864520923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=115266761864520923&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115266761864520923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115266761864520923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/07/distillasi-sekejap-multitahap.html' title='Distillasi Sekejap Multitahap'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29912453.post-115069023653597963</id><published>2006-06-18T21:07:00.000-07:00</published><updated>2006-06-18T21:10:36.536-07:00</updated><title type='text'>Cari Mata Air Dikira Cari Dukun</title><content type='html'>Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Air Minum edisi 128, Mei 2006, terbitan &lt;a href="http:// www.perpamsi.org"&gt;Perpamsi.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya "diplonco" oleh konsultan tempat saya bekerja. Dunia teoretis di kampus harus segera dicoba di dunia terapan. Saya ditugasi survei sekaligus merancang transmisi dan distribusi air bersih untuk proyek PPSAB. Single fighter, begitulah istilahnya. Tak tanggung-tanggung, lokasi survei tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Setelah urusan melelahkan di Semarang, lalu ke pemda kabupaten, kecamatan dan desa. Di desa, di lokasi survei, justru yang terberat. Semua desa yang dikunjungi adalah daerah baru bagi saya. Malah ada daerah yang "tak bertuan" seperti cerita dalam film-film western, wild-wild west. Tak bertuan artinya sulit berhubungan dengan dunia luar karena buruknya prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, setelah berkunjung ke desa-desa lainnya sampailah saya di Bumiayu. Setelah mencari-cari penginapan, dapatlah sebuah losmen yang lumayan. Setelah bayar lunas untuk dua malam dan menaruh barang-barang bawaan, saya mulai bekerja. Hanya barang yang saya perlukan untuk survei saja yang saya bawa. Dari terminal Bumiayu saya naik angkutan ke desa tujuan. Cukup jauh, tapi terhibur oleh pinus-pinus dan tampak para penyadap getah pinus di sepanjang jalan. Jalan berlika-liku, sempit dan saya terjepit di angkutan desa yang sesak. Orang-orang ini begitu bersahaja, tampak dari caranya berpakaian dan cara tuturnya. Ramah semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di angkot dan sebelumnya sudah saya tanyakan ke petugas losmen, saya bertanya lagi tentang Desa Wanoja. Wanoja, katanya, berarti perempuan. Meskipun secara administratif masuk Kabupaten Brebes, tapi secara kultural berbahasa Sunda. Dan Gunung Sawal menjadi sempadan antara kedua etnis tersebut. Penduduk setempat yang akan ke Ciamis atau Kuningan tinggal menyusuri jalan setapak di kaki gunung itu sehingga tak perlu ke Bumiayu yang butuh waktu lama. Demikianlah resume yang saya peroleh dari “ceramah” singkat orang-orang desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya, mobil angkutan desa (angdes) itu ternyata tidak sampai ke desa tujuan saya tapi berhenti di prapatan. Dari sini saya harus naik ojek. Waktu itu ojek masih sedikit dan saya harus menunggu lama. Ketika satu ojek mendekat, saya hampiri dan tukang ojeknya langsung menyapa. Saya katakan bahwa saya mau ke Wanoja. Dengan cepat dia menyambar," Mau ke dukun?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget dan sempat bingung. Apa wajah saya tampak seperti orang yang senang ke dukun? Dia terus saja ngomong,"Bagus dukunnya. Banyak yang ke sana dan dekat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih diam tapi mulai merinding. Seumur-umur saya belum pernah ke dukun. Sampai tamat SMA di Bali pun saya belum pernah melihat leak (makhluk jejadian dari manusia). Tapi sekarang malah diduga mau ke dukun. "Dunia antah berantah apa lagi yang saya masuki?" bisik hati saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa saya antar!" ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya masih galau. Pergi nggak, ya? Akhirnya saya tanyakan ongkosnya sambil menyuruhnya agar saya diantar ke kepala desa. Ternyata dekat yang dimaksudnya begitu jauh bagi saya. Jalannya naik turun, belum diaspal, dan berbatu-batu besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah kepala desa, saya disuguhi kue-kue khas setempat. Kepala desanya berusia sekitar 50-an tahun. Tapi yang membuat saya senang, saya diladeni minum dan penganan oleh seorang perempuan yang umurnya di bawah saya. Kira-kira usia 19 tahun atau kurang dari 20 tahun. Kulitnya kuning langsat, berhidung bangir, berbaju mirip kebaya dan berkain. Cantik juga anaknya, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya luar biasa kaget, perempuan muda yang saya kira anak kepala desa itu ternyata bukan anaknya. Juga bukan keponakannya. Bukan adiknya. "Gadis" muda itu ternyata istrinya. Kata pemandu saya waktu survei ke mata air, itu istri ketiganya. Amboi, satu saja saya belum punya, cetus hati saya waktu itu. *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gede H. Cahyana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29912453-115069023653597963?l=gedehacewater.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gedehacewater.blogspot.com/feeds/115069023653597963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29912453&amp;postID=115069023653597963&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115069023653597963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29912453/posts/default/115069023653597963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gedehacewater.blogspot.com/2006/06/cari-mata-air-dikira-cari-dukun.html' title='Cari Mata Air Dikira Cari Dukun'/><author><name>Gede H. Cahyana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02729901190106682561</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_-lGUe9RpRz8/SZLC7UVQceI/AAAAAAAAAGg/O-C8Upl6X4M/S220/Once+upon+a+time+in+Bedugul.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
